RADAR SURABAYA - Gelaran Basha Market kembali hadir di Surabaya. Kali ini bertempat di Ciputra World Surabaya, pameran kreatif ini mengusung tema Labyrinth yang menawarkan pengalaman multi-sensori bagi para pengunjung.
Co-Founder Basha, Devina Sugono mengatakan, tema tersebut dipilih untuk mengeksplorasi memori.
“Labyrinth adalah perjalanan menyusuri lorong kenangan, mengeksplorasi memori, persepsi, dan nilai. Kami ingin mengajak pengunjung melihat lebih dalam, bukan sekadar terjebak pada permukaan realita,” ujar Devina, Minggu (31/8).
Di awal perjalanan, pengunjung disuguhkan empat instalasi imersif dengan dominasi warna emas.
Warna tersebut dipilih sebagai metafora harta karun yang tersembunyi dalam diri setiap orang, sekaligus ajakan untuk sejenak berhenti di tengah derasnya arus kehidupan.
Sebanyak 170 tenant brand lokal ikut meramaikan ajang ini.
Mulai dari fesyen, parfum, hingga kuliner khas berbagai daerah di Indonesia, semua hadir memberikan pilihan segar bagi pengunjung.
Sementara itu, Co-Founder Basha, Christie Erin mengungkapkan kegembiraannya bisa kembali menghadirkan ruang kolaborasi antara kreator dan brand lokal.
Setelah tahun lalu sukses menggandeng Disney Indonesia sebagai inspirasi, kali ini Basha tetap konsisten memberi dukungan bagi industri kreatif Tanah Air.
“Sebab tantangan hari ini bukan lagi sekadar bagus atau tidaknya sebuah produk, tapi sejauh mana brand mampu beradaptasi dengan konsumen yang semakin kritis,” tutur Erin.
Lebih jauh Erin menyebutkan satu penyelenggaraan Basha Market mampu memberikan efek domino luas, mulai dari fotografer, fashion stylist, studio foto, hingga venue yang ikut terlibat.
“Basha hanyalah gambaran kecil. Tapi dari sini roda ekonomi kreatif bisa berputar lebih luas. Kami ingin selalu memberi dampak positif bagi industri kreatif Indonesia,” tegasnya.
Menurut Erin, konsumen masa kini lebih kritis dan sadar akan nilai. Hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi brand lokal agar terus berinovasi.
“Produk bagus saja tidak cukup. Brand harus bisa bercerita dan menunjukkan value agar tetap relevan di mata generasi muda. Kurasi kita menekankan pada kolaborasi agar industri kreatif bisa tumbuh bersama,” pungkas Erin. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa