Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mahasiswa Surabaya Teliti Pupuk Organik dan Rumah Burung Hantu Tekan Populasi Tikus dan Tingkatkan Hasil Panen

Rahmat Sudrajat • Selasa, 26 Agustus 2025 | 19:43 WIB
 
RADAR SURABAYA - Di tengah isu ketahanan pangan yang menjadi perhatian pemerintah, seorang mahasiswa Program Studi (Prodi) Teknik Industri Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Yulia Rahmawati, menghadirkan penelitian. Penelitian ini membahas tentang peran pupuk organik dan rumah burung hantu dalam memperkuat ketahanan pangan berkelanjutan dan meningkatkan profitabilitas petani di tingkat desa.
 
Yulia melakukan observasi di dua desa di Kabupaten Blitar, yakni Desa Bendosewu dan Desa Kaweron. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa integrasi antara pupuk organik dan pemeliharaan burung hantu tidak hanya bermanfaat bagi ekologi, tetapi juga memberikan dampak nyata pada kesejahteraan petani.
 
 
"Penggunaan pupuk organik dapat menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang, sedangkan keberadaan burung hantu efektif mengurangi serangan hama tikus. Keduanya mampu menciptakan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan dan menguntungkan petani dibanding dengan faktor lainnya di masing-masing wilayah," jelas Yulia, Selasa (26/8).
 
Yulia menemukan bahwa pupuk organik mampu menjaga kualitas tanah pertanian dan mengembalikan unsur hara dengan biaya lebih terjangkau. Sementara itu, rumah burung hantu berfungsi sebagai solusi alami dalam mengendalikan populasi tikus di sawah. Dengan demikian, biaya operasional petani menurun dan profit yang diperoleh pun meningkat.
 
"Dengan adanya rumah burung hantu, populasi tikus di sawah bisa ditekan secara alami tanpa pestisida. Hal ini selaras dengan tercapainya ketahanan pangan yang di mana memperhatikan keberlanjutan untuk masa yang akan datang sekaligus meningkatkan hasil panen," imbuhnya.
 
 
Penelitian ini menggunakan metode SEM-PLS dan sistem dinamis dengan bantuan software Smart-PLS dan Stella. Analisis SEM-PLS dilakukan untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap ketahanan pangan berkelanjutan di tiap wilayah. Faktor tersebut dibagi berdasarkan teori Triple Bottom Line, yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan.
 
Selanjutnya, dibuat model sistem dinamis sesuai kondisi nyata di masing-masing wilayah. Model ini kemudian disimulasikan untuk menghasilkan skenario perbaikan terbaik agar profit petani meningkat sekaligus menjaga ketahanan pangan berkelanjutan.
 
"Saya merancang sendiri model sistem dinamis ini, lalu turun langsung ke lapangan untuk mewawancarai para petani dari Kelompok Tani Desa, kemudian mengajak mereka mengisi kuesioner, supaya hasil penelitian benar-benar sesuai dengan kondisi nyata di desa," terangnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek
#penelitian mahasiswa #pupuk organik #burung hantu #teknik industri #untag surabaya