Ketika Sejarah Bicara di Panggung
Spirit Tak Pernah Padam
RADAR SURABAYA – Bagaimana menyelami sejarah panjang sebuah institusi pendidikan tanpa terasa membosankan? PPPK Petra menjawabnya lewat drama musikal bertajuk “Dari Masa ke Masa”, yang menjadi salah satu rangkaian Petra Schools Edventure di Grand Atrium Pakuwon Mall, Surabaya.
Dipentaskan dalam tiga episode, drama musikal garapan sutradara Melia Santoso atau akrab disapa Melia Lim ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga jendela waktu yang membawa penonton menyusuri perjalanan 75 tahun Petra membangun dunia pendidikan di Indonesia.
Sebelum proses kreatif dimulai, Melia melakukan riset mendalam termasuk membaca buku sejarah berdirinya Petra agar cerita yang dituturkan punya pondasi historis kuat.
Di episode pertama, lahir dari keyakinan dan semangat memajukan bangsa merupakan babak pembuka yang membawa penonton kembali ke bulan April tahun 1951, masa awal berdirinya sekolah Petra.
Dengan visual sederhana, kostum vintage, dan nuansa perjuangan, digambarkan bagaimana para pendiri mengawali langkah besar dengan sarana terbatas, namun dihiasi keyakinan kuat untuk melahirkan generasi cerdas, berkarakter, dan berjiwa pemimpin.
“Kami ingin khalayak umum tahu bahwa menuju usia 75 tahun, perjalanan itu tidak pernah mudah,” tutur Melia.
Masuk di episode kedua yaitu masa keemasan, semakin maju dan modern. Memasuki tahun 1985, penonton diajak menikmati geliat perkembangan Petra yang sangat pesat. Suasana khas era 80-an begitu terasa melalui kostum retro, koreografi dinamis, serta latar musik enerjik.
Fase ini menandai bertambahnya unit pendidikan, jumlah siswa, hingga penguatan kualitas proses belajar-mengajar. Sekolah berkembang menjadi lebih modern, mencerminkan komitmen Petra dalam memajukan pendidikan bangsa.
Sebagai puncak klimaks, babak ketiga menyuguhkan inovasi tanpa henti di era global. Gebrakan Petra di era modern melalui visual video LED, penggunaan teknologi edukasi, kolaborasi global, dan atmosfer pembelajaran kreatif.
Aransemen musik modern berpadu tari kontemporer menguatkan pesan bahwa Petra terus bergerak mengikuti zaman tanpa meninggalkan akar nilai yaitu mendidik dengan hati, memberikan fasilitas terbaik guna mewujudkan mimpi dan harapan generasi muda.
Maskot Opi Lambang Penjaga Mimpi
Sisi menarik lain dari pertunjukan ini adalah kehadiran dua karakter: Eve dan Opi. Nama terakhir merupakan maskot Petra berupa burung hantu. Bukan tanpa makna, Opi dipilih setelah riset yang menyimpulkan bahwa burung hantu aktif pada malam hari.
“Bagi kami, Opi adalah simbol penjaga mimpi dan harapan anak-anak kami. Seperti Petra yang selalu siap mewujudkan mimpi anak-anak yang menempuh pendidikan di sini,” jelas Melia.
Pementasan ini kian istimewa karena merupakan kolaborasi antara Petra Youth Theatre dan Petra Youth Dancer. Kombinasi teater dan tari membuat penuturan sejarah Petra terasa hidup, menyentuh, serta penuh energi muda.
Salah satu pemeran muda, Felicia Surya Tanzil, siswi kelas IX SMP Petra 3 Surabaya, mengaku bangga bisa terlibat sejak latihan. “Seru sekali belajar sejarah Petra sambil berkarya di panggung sebesar ini. Saya juga jadi lebih berani tampil di depan banyak orang,” ungkapnya.
Sementara itu, Kasmuri, Koordinator Bidang Seni dan Kreativitas PPPK Petra, mengatakan drama musikal ini adalah bagian dari program pengembangan bakat (talent development). Kami memberi ruang kepada anak-anak untuk mengembangkan minat dan bakat seni.
“Lewat pementasan ini, mereka tak hanya tampil, tetapi menyelami perjalanan panjang Petra, menyalakan kembali spirit yang tak pernah padam”, tuturnya.
Drama musikal “Dari Masa ke Masa” sukses membawa penonton larut dalam kisah perjuangan, perkembangan, dan inovasi PPPK Petra selama lebih dari tujuh dekade.
Lebih dari sekadar pertunjukan hiburan, karya ini merupakan refleksi bahwa semangat Petra sejak 1951 tetap menyala, terus berinovasi, mendidik, dan melahirkan generasi hebat bagi masa depan bangsa. (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto