Surabaya - Kebijakan larangan parkir di Tepi Jalan Umum (TJU) sepanjang Jalan Tunjungan yang diberlakukan Pemerintah Kota Surabaya sejak (15/7) berdampak signifikan pada aktivitas usaha. Puluhan kafe dan restoran yang selama ini menjadi daya tarik kawasan ikonik itu mengaku kehilangan hingga 30 hingga 50 persen omzet.
Pengunjung yang biasanya datang dengan kendaraan pribadi kesulitan menemukan parkir. Fasilitas parkir resmi dianggap terbatas kapasitasnya dan berlokasi cukup jauh dari pusat keramaian.
"Sejak aturan itu berlaku, kursi-kursi kami kosong. Weekend masih turun 30 persen, tapi kalau hari biasa bisa sampai 50 persen," ungkap Novia, Marketing Ludic Cafe Tunjungan, Senin (18/8).
Sebagai bentuk penolakan, para pengusaha memasang poster berwarna hitam-kuning bertuliskan "Save Tunjungan" di kaca depan kafe dan restoran. Poster itu dipasang berjajar sepanjang jalan, menjadi simbol keresahan atas kebijakan yang dinilai mengancam kelangsungan bisnis.
"Kami pasang poster ini supaya pemerintah bisa melihat langsung. Kami tidak ingin hanya diam, karena dampaknya betul-betul nyata bagi usaha kami," lanjut Novia.
Hal senada disampaikan Maria, kasir Alltime Buns, yang menyebut omzet tempatnya juga turun hingga 50 persen.
"Bukan hanya soal rugi, tapi juga kasihan pelanggan. Parkir motor terdekat sering penuh, mobil apalagi. Banyak yang mengeluh karena harus jalan jauh," ujarnya.
Selain memasang poster, aksi protes juga diwujudkan dalam bentuk hening. Sejumlah kafe dan restoran serentak memadamkan lampu selama satu jam. Aksi itu membuat suasana Jalan Tunjungan yang biasanya semarak berubah muram.
"Ini solidaritas kami. Lampu kafe dipadamkan satu jam sebagai tanda protes. Biar pemerintah tahu kalau kami sedang tidak baik-baik saja," kata Maria.
Para pengusaha berharap Pemkot Surabaya mencari solusi yang lebih bijak. Mereka meminta adanya kebijakan alternatif, seperti pengembalian parkir tepi jalan dengan sistem pengawasan resmi, agar usaha bisa bertahan.
"Bagi kami, ini soal bertahan hidup. Kami cinta Tunjungan, tapi kalau terus begini bisa-bisa kami gulung tikar," keluh seorang pengusaha yang enggan disebutkan namanya.
Baca Juga: Royalti Musik Lokal Dinilai Berat, Kafe-Kafe di Tunjungan Surabaya Beralih ke Musik Luar Negeri
Kini, wajah Jalan Tunjungan yang semula diproyeksikan sebagai pusat wisata dan kuliner justru diliputi keresahan. Para pelaku usaha mendesak pemerintah hadir tidak hanya dengan aturan, tetapi juga solusi yang berpihak pada keberlangsungan usaha lokal. (ali/ris/fir)
Editor : M Firman Syah