RADAR SURABAYA – Fenomena seragam sekolah dengan warna berbeda yang sempat menjadi sorotan DPRD Kota Surabaya mendapat tanggapan langsung dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Ia mengaku heran mengapa seragam siswa bisa memiliki warna yang tidak seragam.
“Saya itu bingung yo. Kok ono seragam beda warna? Karena sebenarnya seragam itu kan tidak hanya beli di sekolah. Beli di mana pun kan bisa?” ujar Eri Cahyadi.
Baca Juga: Barcelona Pinjam Dana Rp132 Miliar Demi Daftarkan Pemain Baru di Musim 2025/2026
Pria yang akrab disapa Cak Eri itu menegaskan, Pemkot Surabaya tidak pernah mengimbau agar seragam hanya dibeli di sekolah. Menurutnya, masyarakat bebas membeli di mana saja, termasuk di toko-toko maupun penjahit lokal.
“Kalau di SMP dan di SD itu, saya tidak menyarankan dan tidak mengimbau untuk orang beli seragam hanya di sekolah. Boleh di mana pun. Opo nang purnama, opo nangdi. Sehingga apa? Ya sudah. Itu yang kita lakukan,” jelasnya.
Meski demikian, Eri mengaku sudah memanggil Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk meminta penjelasan terkait perbedaan warna tersebut. Ia juga menilai, seragam memang seharusnya tidak hanya diproduksi oleh satu pihak.
Baca Juga: Gaya Oversized dan Earth Tone Dominasi Tren Fashion Gen Z 2025 di Surabaya
“Wernane yo rada ono sing bedo, lek podo blas berarti dikuasai wong siji dong berarti. Lha ya ini yang saya sampaikan kemarin saya minta temen-temen Dispendidikan koordinasi dengan temen-temen dari Dispendidik provinsi ya,” terangnya.
Menurut Eri, perbedaan warna tipis antarprodusen seragam adalah hal wajar, asalkan masih dalam rentang yang pantas dan sesuai dengan masing-masing jenjang sekolahnya. Justru ia menilai, jika seluruh seragam di Surabaya identik tanpa perbedaan sedikit pun, ada potensi monopoli produksi.
“Karena buat saya seragam lek bedo titik putih ya masak kalo klambine sampeyan putih yo maksudnya ono bedone titik lah. Gak mungkin corake podo. Lek wong siji iku podo kabeh sak kabeh sak Surabaya SMP iki podo kabeh berarti dikerjain wong siji Bos. Nah iku sing gak ngebolehin,” tegasnya. (dim)
Editor : Lambertus Hurek