RADAR SURABAYA – Perhimpunan Pendidikan dan Pengajaran Kristen (PPPK) Petra terus berkomitmen dalam mendukung pengembangan bakat dan keterampilan siswa, ini dibuktikan melalui inovasi pembelajaran yang berkelanjutan.
Setelah sukses membuka kelas coding, kini PPPK Petra menghadirkan dua program bela diri unggulan Wushu dan Shorinji Kempo sebagai bagian dari One Stop Learning (OSL) di lingkungan sekolah Petra.
Program OSL ini dirancang untuk memberikan pengalaman belajar menyeluruh di luar kurikulum utama, sekaligus menjadi wadah bagi siswa dalam mengeksplorasi minat serta mengembangkan potensi diri, khususnya dalam bidang non-akademik seperti olahraga, seni, dan budaya.
Wushu menjadi pilihan program OSL terbaru di SD Kristen Petra 7. Seni bela diri tradisional asal Tiongkok ini tak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga mengajarkan nilai kedisiplinan, pengendalian diri, dan ketahanan mental.
“Wushu menjadi pilihan program OSL yang sangat bermanfaat. Selain melatih fisik dan mental, pembelajaran ini juga memberi nilai tambah dalam penguatan bahasa Mandarin dan budaya Tionghoa,” ujar Jeane Indriati, Kepala SD Kristen Petra 7.
Menurut Jeane, lokasi sekolah yang berdekatan dengan kawasan Klenteng, dan Kampung Kungfu yang ada di wilayah Kapasan menjadi latar dalam mendukung sinergi pembelajaran budaya Tionghoa dengan program sekolah. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai RAISE yang dihidupi PPPK Petra, terutama aspek Respect yang membentuk karakter, meningkatkan kepercayaan diri, serta sikap sopan santun siswa.
Lebih lanjut, kelas Wushu ini juga berkontribusi pada pencapaian Student Learning Outcomes seperti Physical Growth, meningkatkan kebugaran fisik. Emotional Intelligence, membangun kerja sama tim dan disiplin. Talent Development, mengembangkan minat dan bakat bela diri. Relationship with God, menanamkan nilai-nilai Kristiani seperti kesabaran dan kasih. Dan yang terakhir Academic Excellence, menunjang prestasi melalui kompetisi dan lomba.
Sementara itu, Tjitro Junawar, pelatih dari Sasana Wushu Yasanis yang juga alumni SMA Kristen Petra 5, menekankan bahwa materi latihan difokuskan pada peningkatan konsentrasi, koordinasi otak kanan dan kiri, penguatan fisik, mental, serta kedisiplinan.
“Dalam Wushu, siswa belajar untuk fokus pada satu tujuan dan terus berlatih. Ini adalah proses penting dalam pembentukan karakter,” jelas Tjitro.
Program OSL yang dilaksanakan di luar jam sekolah ini memberi fleksibilitas bagi siswa untuk mengikuti kegiatan tanpa mengganggu pembelajaran utama. Kelas Wushu pun mendapat sambutan positif dari siswa dan orang tua. Banyak yang berharap kegiatan ini dapat semakin memperkuat fisik dan mental anak, sekaligus mempererat relasi antar siswa.
Selain Wushu, Petra juga membina siswa melalui Shorinji Kempo. Bela diri asal Jepang ini menjadi sarana efektif membentuk pribadi yang disiplin, jujur, dan sportif. Setiap peserta latihan wajib mematuhi aturan, menghargai lawan, serta menjunjung tinggi kejujuran.
“Orang tua tidak selalu bisa mendampingi anak, sehingga mereka harus memiliki kemampuan melindungi diri sendiri,” kata Sensei Bambang Hermawan.
Latihan Shorinji Kempo membekali siswa dua manfaat besar, yaitu fisik yang kuat dan karakter yang tangguh. Siswa dilatih memanfaatkan kedua tangan dan kaki untuk melepaskan diri, mempertahankan diri, sekaligus memberi peringatan kepada pelaku agar tidak berbuat jahat. Hal ini menjadi penting di tengah maraknya kasus perundungan dan kekerasan terhadap anak.
Melalui kombinasi pembelajaran Wushu dan Shorinji Kempo, PPPK Petra ingin mencetak generasi muda yang unggul secara holistik sehat, berprestasi, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan hidup dengan percaya diri. (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto