RADAR SURABAYA - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali meluluskan seorang mahasiswa berprestasi dari Departemen Manajemen Bisnis, Bima Surya Samudra, yang dinyatakan lulus tanpa skripsi.
Bima berhasil meraih kelulusan berkat publikasi ilmiahnya yang terakui, mengikuti jejak yang pernah dilakukan ITS pada tahun 2020.
Bima menjelaskan bahwa penelitiannya yang berjudul "The Use of Generative AI in Workplace Driving Factors, Barriers, and Benefits" digarap dalam waktu kurang dari dua tahun.
Penelitian ini terindeks Scopus pada konferensi internasional IEEE TEMSCON ASPAC 2024 dan menjadi syarat kelulusannya pada Wisuda ke-132 ITS mendatang.
"Penelitian ini saya lakukan untuk menggali potensi Generative Artificial Intelligence (Gen AI) di dunia kerja," ungkap Bima, Jumat (8/8).
Ia menambahkan bahwa adopsi kecerdasan buatan semakin meluas, namun pemanfaatannya di Indonesia masih memerlukan pemahaman yang lebih mendalam.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bima melakukan studi dengan metode Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT).
Survei daring dilakukan dan dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), dengan melibatkan 150 responden dari berbagai sektor, termasuk perusahaan swasta, BUMN, BUMD, perusahaan multinasional, hingga instansi pemerintah.
Berdasarkan hasil penelitiannya, Bima menjelaskan bahwa harapan kinerja dan keadaan fasilitas secara signifikan mendorong adopsi Gen AI.
Sementara itu, kinerja usaha kurang berperan dan pengaruh sosial memberikan pengaruh moderat.
Analisis data menunjukkan bahwa 58,4 persen varians niat penggunaan dapat dijelaskan oleh keempat konstruk UTAUT.
"Penelitian ini memberikan rekomendasi praktis dan aplikatif bagi para pemangku kepentingan, khususnya di sektor manufaktur dan jasa," ujar Bima.
Ia berharap hasil temuannya dapat menjadi dasar dalam merumuskan langkah strategis untuk mengoptimalkan kolaborasi antara manusia dan teknologi.
"Rumusan strategis ini penting untuk menghadapi dinamika transformasi digital yang tak bisa dihindari," tegasnya.
Di balik pencapaiannya, Bima mengakui bahwa proses penyusunan publikasi ilmiah ini penuh tantangan.
Bima menekankan bahwa yang terpenting bukanlah bentuk akhir dari tugas akhir, melainkan dampak nyata yang dihasilkan dari penelitian tersebut.
"Bagi saya, bukan soal lulus dengan skripsi atau tidak, melainkan bagaimana hasilnya bisa memberi manfaat nyata bagi banyak orang," pungkasnya. (rmt/opi)
Editor : Nofilawati Anisa