Surabaya - Sebanyak 45 pasangan calon pengantin di Surabaya diduga menjadi korban penipuan oleh sebuah jasa wedding organizer (WO) ilegal yang dijalankan oleh perempuan berinisial A. Kerugian dari kasus ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp 500 juta.
Salah satu pasangan korban, Ridho, 26, dan Rerey, 24, mengaku pernikahan mereka batal total hanya dua hari sebelum hari H. Seluruh kebutuhan pesta seperti rias pengantin, dekorasi, dokumentasi, hingga katering yang sebelumnya telah dikoordinasikan dan dibayar lunas, dibatalkan sepihak oleh para vendor.
"Undangan sudah disebar. Tinggal dua hari lagi malah dikabarin MUA, dekor, semua gak bisa datang. Nangis, stres, akhirnya kelabakan cari vendor lain," kata Rerey saat ditemui, Minggu (3/8).
A yang juga berprofesi sebagai makeup artist (MUA), semula menawarkan paket lengkap dan menyanggupi pengadaan seluruh vendor. Namun, jelang pelaksanaan, ia menghilang tanpa kabar. Uang pelunasan senilai Rp 10,3 juta pun raib tanpa kejelasan.
Rerey telah melaporkan kejadian ini ke Polrestabes Surabaya. Ia mengaku bukan satu-satunya korban. Lebih dari 45 pasangan dilaporkan mengalami kasus serupa, dengan modus dan pola kerugian yang hampir sama.
Korban lainnya, Andika, yang dijadwalkan menikah pada (8/7), mengungkap telah membayar Rp 8,6 juta dari total biaya Rp 14 juta.
"Saya cek rumahnya di Tenggilis Mejoyo, ternyata kosong. Kata RT-nya, dia pamit mau ke Palembang jual rumah. Info terakhir, korban sudah bikin grup paguyuban karena jumlahnya makin banyak," ujarnya.
Beruntung, Andika dan pasangannya Riva menyadari potensi penipuan sebelum hari pelaksanaan. Namun, menurutnya, banyak korban baru menyadari setelah pesta gagal digelar.
"Pas ditelepon, dia cuma jawab gak bakal balik ke Surabaya kalau belum bawa uang," tambahnya.
Tak hanya calon pengantin, vendor dokumentasi pun turut menjadi korban. Wahyu, pemilik WBP Present Photo Video, mengaku mengalami kerugian sekitar Rp 27 juta akibat sembilan proyek yang belum dibayar.
"Awalnya kerjasama lancar. Tapi sejak Juni, sembilan pekerjaan gak dibayar. Alasannya belum dapat pembayaran dari klien, tapi saya tahu dari pasangan bahwa pembayaran mereka sudah lunas," ungkap Wahyu.
Ia menyatakan kesiapannya menjadi saksi untuk mendukung proses hukum terhadap pelaku.
"Saya banyak dapet cerita serupa dari vendor lain. Kalau dibiarkan, korbannya bisa terus bertambah," tegasnya.
Sementara itu, suami dari A, Masruri, membantah tudingan kabur. Ia mengklaim sedang berada di Palembang untuk menyelesaikan kewajiban.
"Kami di Palembang, bukan melarikan diri. Kami sedang berusaha melunasi semua tanggungan. Keluarga kami petani kopi, jadi tunggu hasil panen," ujarnya saat dikonfirmasi. (ali/ris/fir)
Editor : M Firman Syah