RADAR SURABAYA – Film bertajuk NuShanTa(Ra): Karena yang Indah tak Harus Sewarna resmi tayang perdana dalam Gala Premiere dan Press Screening yang digelar meriah di XXI Supermall Pakuwon, Sabtu (1/8).
Karya istimewa ini merupakan produksi Petra Youth Theatre, disutradarai oleh Melia Santoso, dan menjadi bagian dari rangkaian perayaan 75 tahun perjalanan Perhimpunan Pendidikan dan Pengajaran Kristen (PPPK) Petra.
Lebih dari sekadar tontonan, NuShanTa(Ra) dihadirkan sebagai media pembelajaran yang menyentuh dan membangun kesadaran akan pentingnya hidup dalam harmoni, meski berbeda keyakinan, latar budaya, dan identitas.
Film ini bukan hanya sekadar produk seni, tetapi juga refleksi sosial yang relevan. Di tengah dunia yang kerap diwarnai intoleransi, film ini mengajak penonton untuk menengok kembali ke masa di mana perbedaan bukanlah penghalang, tetapi kekayaan.
“Tingkat kesulitannya cukup tinggi karena 80 persen pemainnya adalah siswa. Sebelum proses syuting, mereka harus melalui tahap presentasi, bedah naskah, hingga riset mendalam. Ini kami persiapkan hampir satu tahun penuh,” ujar Melia Santoso, sang sutradara.
Film ini bukan hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga ruang edukasi. Bagi kami, film adalah media pembelajaran, karena film bisa menggiring opini, maka pesan yang disampaikan harus akurat.
"Anak-anak kami latih untuk menganalisis dan memahami data sebelum memvisualisasikannya ke dalam adegan,” tambahnya.
NuShanTa(Ra) berkisah tentang Rafael diperankan Hengkie Porawouw, seorang direktur utama yang hendak memasuki masa pensiun. Di usia senja, ia rindu pada masa kecilnya yang penuh keteduhan di desa Sampun Akor, tempat di mana keberagaman bukan menjadi pemisah, melainkan pengikat kasih.
Di tengah modernitas yang penuh gesekan sosial, Rafael merasa jenuh dengan konflik yang terjadi di sekitar. Ia pun memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya demi menemukan kembali nilai-nilai yang dulu membuat hidup terasa lebih damai dan berarti.
Kisah lalu mengalir ke masa mudanya di tahun 1978, saat Rafael muda yang diperankan Marvel Sulianto Wang hidup bersama sahabat-sahabatnya yang berasal dari latar agama dan budaya berbeda: Nura (Katolik), Nurwanto (Buddha), Shan Ming (Konghucu), Tarita (Hindu), dan Taufik (Islam). Meski berbeda, mereka hidup rukun dan saling menghargai, menciptakan keindahan dalam kebersamaan.
Direktur Eksekutif PPPK Petra, Hengkie Porawouw, menyampaikan bahwa film ini merupakan simbol nyata dari dukungan institusi terhadap potensi dan kreativitas siswa.
“Kita ingin menunjukkan bahwa anak-anak sudah diberi panggung untuk menunjukkan karya mereka. Ini bentuk dorongan dan apresiasi besar dari PPPK Petra terhadap karya siswa dan guru,” tuturnya.
Film ini menjadi pencapaian monumental karena berhasil lolos proses sensor nasional dan ditayangkan di layar lebar. Bahkan, pihak Petra berharap karya ini dapat melangkah lebih jauh ke ajang festival film nasional maupun internasional.
"Menariknya, keterlibatan dalam produksi film ini mencakup seluruh ekosistem pendidikan Petra, mulai dari siswa TK sampai SMA/SMK, guru, hingga karyawan. Sebuah kolaborasi lintas usia dan peran yang menggambarkan semangat kebersamaan dalam berkarya," pungkasnya (ind/gun)
Editor : Guntur Irianto