Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tak Lagi Hanya Diukur dari Transaksi Ekonomi, Pusat Perbelanjaan  Kini Menjadi Ruang Sosial Hibrid

Mus Purmadani • Rabu, 30 Juli 2025 | 04:11 WIB

 

Pusat Perbelanjaan tak hanya menjadi tempat jual beli, namun menjadi lanskap sosial baru, perpaduan antara konsumsi simbolik dan rekreasi identitas.
Pusat Perbelanjaan tak hanya menjadi tempat jual beli, namun menjadi lanskap sosial baru, perpaduan antara konsumsi simbolik dan rekreasi identitas.

RADAR SURABAYA – Mal tidak lagi menjadi pusat belanja, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial, destinasi rekreasi keluarga, hingga panggung pertunjukan gaya hidup urban.

Namun, di balik etalase mewah dan gerai brand global, hadir realitas lain. Yakni warga kota datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk menegosiasikan eksistensi dan rasa menjadi bagian dari dunia modern.

Hal tersebut disampaikan Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Heri Bagus Setiawan, Selasa (29/7).  

Menurutnya, fenomena ini mulai terpetakan melalui istilah-istilah jenaka namun bermakna, seperti Rojali (rombongan jajan lalu pergi), Rohana (rombongan hanya nanya), Rosali (rombongan suka selfie), Rocado (rombongan cari jodoh), Rocega (rombongan cek harga), Ronadem (rombongan numpang ngadem), Rocuta (rombongan cuci mata), hingga Rohalus (rombongan hanya elus-elus barang).

 “Di balik kelucuannya, tersimpan lanskap sosial baru, perpaduan antara konsumsi simbolik dan rekreasi identitas,” katanya.

Dalam perspektif manajemen strategik, khususnya teori adaptive strategy, para pengelola mal perlu menyadari bahwa nilai sebuah pusat perbelanjaan tak lagi hanya diukur dari transaksi ekonomi. 

“Kehadiran kelompok Rojali dan kawan-kawan bukanlah gangguan, tetapi sinyal bahwa mal telah menjadi ruang sosial hibrid yang menuntut pendekatan manajerial baru lebih fleksibel, kontekstual, dan partisipatif,” jelasnya.

Menurutnya kini, mal telah menjelma menjadi semacam pelarian sosial atau ruang untuk melepaskan penat, mencari ketenangan sesaat, atau sekadar menikmati suasana ramai yang memberi rasa keterhubungan. 

“Di sinilah relevansi strategic ambidexterity,  kemampuan menjelajahi peluang baru sambil tetap memelihara model lama yang masih relevan. Artinya, ruang publik dalam mal perlu dirancang ulang agar tidak hanya mendorong konsumsi, tetapi juga memperkuat interaksi sosial, inklusivitas, dan estetika kota,” jelasnya.

Heri mengatakan, pengelola mal memiliki peran strategis dalam membentuk ekosistem konsumsi yang lebih sadar.

Kehadiran taman baca, ruang komunitas, forum kebudayaan, hingga zona interaksi tanpa syarat beli adalah bagian dari shared value yang artinya  bisnis tidak hanya untuk laba, tetapi juga menciptakan nilai sosial bersama.

“Pemerintah kota dan perencana urban pun perlu membaca ulang fungsi mal dalam tata ruang. Pengunjung non-buyer bukan beban, tetapi elemen penting dalam ekosistem sosial mal," jelasnya.

"Mereka menciptakan persepsi ramai, memperkuat atmosfer, dan memberi nilai tambah tidak langsung bagi mal sebagai destinasi. Ini sejalan dengan logika positive externalities dalam ekonomi kota. Nilai tidak hanya diciptakan oleh yang membeli, tetapi juga oleh yang hadir,” pungkasnya. (mus/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Transaksi ekonomi #mal #surabaya #pusat perbelanjaan #rekreasi keluarga #UNESA #Gaya Hidup Urban #Ruang Sosial