RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya saat ini tengah bersiap melakukan penertiban terhadap bangunan liar lanjutan dari sungai kalianak. Pada tahap dua penertiban ini, bangli yang menjadi sasaran adalah bangunan yang berada di area Tambak Asri, Morokrembangan.
Camat Krembangan, Harun Islamil mengungkapkan, memang sebelumnya sempat ada penolakan dari warga yang bangunannya hendak ditertibkan pemerintah itu.
Namun, penolakan itu sudah selesai ditangani melalui audiensi yang dilakukan beberapa waktu lalu.
"Kita tetap jalan sesuai rencana awal seperti yang sudah ternormalisasi di tahap pertama," kata Harun.
Di sisi lain, Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Achmad Nurdjayanto menyarankan, dalam proses normalisasi dan penertiban bangli ini, pemerintah diminta agar melakukan pendekatan secara humanis.
Dia setuju akan pentingnya normalisasi sungai di kota ini. Sebab, hal tersebut juga untuk kebaikan warga juga.
Hal itu menurutnya merupakan langkah strategis untuk mengoptimalkan fungsi saluran air dan menanggulangi genangan air ketika musim penghujan.
Namun, ia mengingatkan agar aspek kemanusiaan tidak dikesampingkan dalam pelaksanaannya.
"Jangan sampai mengabaikan sisi kemanusiaan warga yang telah puluhan tahun tinggal di sana," kata Achmad.
Legislator dari Fraksi Golkar itu melanjutkan, dalam penertiban bangli ini, pemerintah sudah seharusnya menyediakan solusi yang saling menguntungkan satu sama lain.
Sehingga, upaya pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya banjir ini tidak mencederai atau merugikan warga yang tinggal di area tersebut.
"Di satu sisi, normalisasi harus berjalan untuk mengoptimalkan fungsi saluran. Di sisi lain, warga tidak boleh menjadi korban," ucapnya.
Dia meminta agar pemerintah kota juga memikirkan dampak sosial dari penertiban bangli ini. Solusi untuk merelokasi atau memberikan kompensasi pada pemilik bangunan haruslah adil. Tujuannya agar tidak tercipta gejolak pada masyarakat yang bermukim di sana.
"Sehingga apa, pembangunan kota pun bisa berjalan beriringan dengan kesejahteraan warga kota ini," tandasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari