RADAR SURABAYA – Meski telah berhasil mencapai cakupan layanan 100 persen di seluruh wilayah Surabaya, Perusahaan Air Minum (PAM) Surya Sembada tetap dihadapkan pada tantangan besar di masa depan. Salah satu tantangan utama yang menjadi perhatian adalah ketersediaan air baku, baik dari sisi kuantitas, kualitas, maupun kontinuitas.
Direktur Utama PAM Surya Sembada, Arief Wisnu Cahyono, menjelaskan bahwa kebutuhan air bersih di Surabaya mencapai 367 juta meter kubik per tahun. Untuk memenuhi angka tersebut, kualitas air baku yang digunakan harus berada pada golongan satu, dengan kuantitas yang mencukupi secara berkelanjutan.
"Kualitasnya paling tidak air baku ini golong satu. Kemudian kuantitasnya mencukupi. Karena kebutuhan kita pertahunnya itu 367 juta meter kubik per tahun," ujar Arief.
Sebagai upaya menjaga kualitas air baku, PAM Surya Sembada menggalakkan program Surya Sembada Eco Movement. Program ini melibatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan Sungai Surabaya yang menjadi sumber utama air baku.
Di sisi lain, Arief juga menyoroti kondisi infrastruktur produksi yang masih menggunakan peralatan berusia lebih dari 30 tahun. Hal ini menuntut perawatan ekstra agar sistem distribusi tetap berjalan optimal.
Dari segi kontinuitas layanan, Arief menyebut bahwa idealnya tekanan air untuk kota sebesar Surabaya adalah di kisaran 7 meter kolom air. Saat ini, PAM Surya Sembada secara bertahap tengah membangun infrastruktur untuk mencapai target tersebut.
“Untuk ke arah sana dibutuhkan tambahan infrastruktur. Jadi kita lakukan secara bertahap. Saat ini sudah dua, nanti naik ke tiga lalu ke lima sampai tujuh,” jelasnya.
Dalam rencana jangka menengah, pihaknya menargetkan tekanan air di atas 5 meter kolom air secara merata di seluruh Surabaya pada tahun 2027 hingga 2028.
“Kenapa kita butuh tekanan yang tinggi? Karena kita menjaga kualitas dan kuantitasnya. Ketika tekanan tidak tinggi, ada potensi kotoran dari luar akan masuk,” pungkas Arief. (*)
Editor : Lambertus Hurek