RADAR SURABAYA - Perhimpunan Pendidikan dan Pengajaran Kristen Petra (PPPK Petra) menunjukkan langkah nyata dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan dunia digital melalui program One Stop Learning (OSL).
Dalam kolaborasinya bersama Computational Thinking Academy (COTHA), program baru ini hadir di SD Kristen Petra 5, Jumat (18/7).
Program OSL sebagai inovasi pembelajaran teknologi berbasis eksplorasi dan proyek, dengan dua kelas unggulan yaitu Digital Storytelling Animation dan 2D–3D Game Coding.
Para siswa diajak mengeksplorasi dunia digital melalui berbagai platform edukatif populer seperti Scratch, MIT App Inventor, dan Construct.
"Ini bukan sekadar pengenalan teknologi, tapi langkah awal mencetak generasi yang kreatif, logis, dan siap bersaing di dunia digital," jelas Lianto Atmodjo,
Kepala Litbang PPPK Petra. Ia menegaskan bahwa pendekatan OSL bukan hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai penting seperti ketekunan, kolaborasi, dan kemampuan berpikir kritis.
Lebih lanjut, Lianto menjelaskan bahwa saat ini sudah diterapkan di beberapa sekolah PPPK Petra, seperti SD Kristen Petra 1, 5, 7, 10, 12, dan 13.
Target ke depannya adalah memperluas implementasi agar lebih banyak siswa dapat ikut program ini.
“Tunggu OSL berikutnya. Kalau mau layanan premium, Sekolah Petra pasti pilihannya,” tambahnya dengan penuh semangat.
Kepala SD Kristen Petra 5, Theresia Adriana, mengapresiasi antusiasme orang tua terhadap program OSL sangat tinggi. Ia menyampaikan bahwa sejak sosialisasi program, banyak orang tua yang langsung mendaftarkan anak-anak mereka.
“Untuk kelas Game Coding, kami bahkan harus membuka dua kelas karena banyak peminat. Sedangkan kelas Animation juga sudah terisi penuh, bahkan saat ini masih ada yang inden. Kami memang membatasi kuota karena harus disesuaikan dengan ketersediaan perangkat di laboratorium komputer,” jelas Theresia
Tak hanya pihak sekolah, para orang tua pun memberikan respons positif. Salah satunya Rosiana Filia Wijaya.
Ia mengaku sangat mendukung program ini. Awalnya kami sempat mencari tahu lebih dulu tentang Cotha, dan ternyata mereka memiliki materi serta pengajar yang sudah berpengalaman.
“Saya sangat apresiasi terhadap program ini. Program yang berkualitas, tim pengajarnya mumpuni, dan lokasinya di sekolah, jadi tidak perlu repot. Jadwalnya juga tidak bentrok dengan pelajaran. Dari segi biaya juga terjangkau dan kompetitif selain itu menawarkan banyak pilihan menarik bagi anak-anak,” ungkap Rosiana.
Salah satu peserta, Botti Hendrawan, siswa kelas VI-D, mengungkapkan kegembiraannya bisa belajar di kelas 2D–3D Game Coding.
“Saya paling suka karakter bola, karena saya suka game sepak bola. Saya ingin terus belajar coding 3D supaya bisa bikin game sendiri,” ucapnya penuh semangat.
Melalui pendekatan berbasis proyek, program OSL menjadikan siswa sebagai pelaku aktif dalam proses belajar.
Mereka tidak hanya menerima materi secara pasif, tapi juga diajak untuk mencipta, bereksperimen, dan menyelesaikan tantangan secara kolaboratif. (ind/nur)
Editor : Nurista Purnamasari