RADAR SURABAYA – Ada yang berbeda di hari-hari awal sekolah di SLB A YPAB Tegalsari, Surabaya. Dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), puluhan siswa tunanetra dari jenjang TK hingga SD dikenalkan berbagai alat musik untuk melatih kepekaan pendengaran mereka.
Meski tak bisa melihat, antusiasme para siswa luar biasa. Mereka mendengarkan dengan saksama setiap bunyi alat musik yang dimainkan guru. Ada suara kentongan yang khas, seruling yang melengking, harmonika yang merdu, hingga bunyi unik dari botol kaca yang dipukul sendok.
Tak ketinggalan pianika dan ukulele yang terdengar ceria. Setelah mendengar, mereka diminta menebak dan mencoba langsung alat musik tersebut.
Salah satu siswa, Syifa, yang baru duduk di TK, tampak percaya diri menjawab pertanyaan guru. Ia mengatakan familiar dengan suara kentongan dan gitar. “Suka musik, kalau besar nanti ingin mainkan semua alat musik,” ujarnya, Rabu (16/7).
Kepala SLB A YPAB Tegalsari, Oktavia Eka Kusumaningtyas, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk melatih kepekaan pendengaran siswa terhadap berbagai suara, terutama karena mereka tak mengandalkan penglihatan. “Kami kenalkan suara alat musik agar mereka tahu dan paham, baik yang tradisional maupun modern,” ucapnya.
Menurutnya, sebagian besar siswa memang memiliki ketertarikan kuat terhadap musik, terutama alat seperti piano, keyboard, dan bass drum. Namun, pengenalan alat musik tradisional seperti angklung, kentongan, seruling, dan ukulele tetap dilakukan agar siswa lebih kaya pengalaman.
“Kalau alat tradisional jarang dikenalkan, jadi kami tambahkan agar mereka tahu,” tambahnya.
Selain pengenalan alat musik, kegiatan ini juga bertujuan melatih kepekaan terhadap suara di sekitar, seperti suara orang, burung, atau kondisi lingkungan. Bahkan, kepekaan terhadap aroma juga dilatih, seperti mengenali seseorang dari parfum yang digunakan.
Tahun ini, sekolah menyambut 30 siswa baru, empat di antaranya merupakan anak usia TK. Oktavia menyebut MPLS di SLB disesuaikan dengan kebutuhan dan juknis tiap tahun. “Tahun ini, fokus pada pengenalan lingkungan, kebiasaan, suara, serta kampanye bahaya narkoba dan judi online,” tutupnya. (*)
Editor : Lambertus Hurek