RADAR SURABAYA – SMA di Surabaya mulai berbenah dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21. Salah satunya dilakukan SMA Negeri 8 Surabaya yang menggandeng Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk mengembangkan pembelajaran berbasis deep learning dan artificial intelligence (AI).
Kepala SMA Negeri 8 Surabaya, Tri Kurniawati, menyampaikan pentingnya kesiapan guru dalam mengadopsi teknologi dan pendekatan pembelajaran baru. Menurutnya, guru saat ini harus mampu menjadi fasilitator yang membimbing siswa berpikir kritis, kreatif, dan reflektif.
“AI dan deep learning bukan untuk menggantikan guru, tapi memperkaya peran mereka dalam proses belajar,” ujar Tri saat workshop kolaboratif, Selasa (15/7).
Ia juga menegaskan bahwa kerja sama antara sekolah dan kampus adalah langkah awal menuju transformasi pembelajaran yang lebih bermakna.
Pengawas SMA Kota Surabaya, Dwi Priyono, menyatakan bahwa Kurikulum Merdeka memberi ruang bagi sekolah untuk berinovasi. Ia mendorong guru memanfaatkan peluang tersebut untuk menciptakan pembelajaran yang tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga membangun pemahaman mendalam.
“Pembelajaran mendalam adalah cara pandang transformatif dalam pendidikan. Bukan sekadar strategi belajar,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan dan Inovasi Pembelajaran FIP Unesa, Lamijan Hadi Susarno, menekankan pentingnya sinergi antara sekolah dan kampus. Ia menyebut transformasi pendidikan harus dilakukan bersama, dengan kampus mendukung dari sisi teori dan riset, dan sekolah dari sisi praktik.
Kegiatan pelatihan ini mencakup pengembangan rancangan pembelajaran berbasis deep learning, pendekatan kreatif di kelas melalui simulasi dan proyek, serta pemanfaatan AI untuk evaluasi pembelajaran, seperti sistem penilaian otomatis dan platform digital berbasis AI.
Sebagai tindak lanjut, seluruh peserta diwajibkan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau Rencana Pembelajaran Semester (RPS) yang menerapkan pendekatan deep learning. Tiga rancangan terbaik akan mendapatkan hadiah uang tunai. Sertifikat diberikan bagi peserta yang menyelesaikan tugas tersebut.
“Semangat inovasi ini diharapkan terus hidup dalam praktik mengajar guru di kelas,” pungkas Lamijan. (*)
Editor : Lambertus Hurek