RADAR SURABAYA - Galeri Prabangkara di Komplek Taman Budaya Jawa Timur, kembali menjadi saksi bisu sebuah perjalanan seni yang sarat makna.
Melalui pameran bertajuk Candi, delapan orang perupa dari berbagai daerah di Jawa Timur menafsirkan ulang makna candi sebagai bukan sekadar bangunan kuno, melainkan sebagai simbol ingatan, pengetahuan, dan semangat masa lalu.
Pameran yang digelar hingga 17 Juli ini, merupakan bagian dari program Taman Budaya Jawa Timur yang telah melalui proses kurasi sejak tahun 2024.
Agus Koecink, selaku kurator pameran, menjelaskan bahwa konsep Candi diangkat karena keberadaan candi di Jawa Timur yang tersebar hampir merata.
Meski sebagian besar ditemukan dalam kondisi runtuh atau bahkan masih terkubur di dalam tanah, namun memiliki nilai sejarah dan ilmu pengetahuan.
“Para perupa merespons tema ini bukan hanya dari bentuk fisik candinya, tetapi dari sisi narasi dan spirit yang terkandung di dalamnya. Mereka menyerap cerita lokal dari daerah masing-masing, lalu memvisualisasikannya sesuai karakter seni mereka,” ujar Agus, saat ditemui di galeri, Minggu (13/7).
Setiap perupa diberi kebebasan untuk menampilkan antara tiga hingga empat karya, sehingga total terdapat sekitar 32 lukisan yang dipamerkan.
Diskusi antara kurator dan seniman dilakukan secara intens untuk memastikan narasi yang kuat dan relevan dengan tema.
Salah satu perupa yang ambil bagian adalah Sugiyo, atau yang akrab disapa Giok.
Seniman asal Tulungagung yang juga guru seni budaya ini, menampilkan empat karya lukis yang kental dengan semangat nasionalisme dan kepedulian lingkungan.
“Saya tidak menggambar candi secara fisik, tetapi lebih mengangkat spiritnya. Salah satu karya saya berjudul Transformasi, yang menceritakan realita daerah saya, Tulungagung. Sebagai penghasil marmer. Ironisnya, masyarakat di sekitar tambang tetap hidup dalam kemiskinan, sementara lingkungannya rusak,” terang Giok.
Dalam Transformasi, Giok menggambarkan burung-burung yang kehilangan habitat sebagai simbol masyarakat yang tetap bertahan dan mencintai daerahnya meskipun kondisi tidak berpihak.
"Meskipun begitu, namun warga sekitar memiliki semangat untuk kembali memperbaiki," pungkas perupa dengan karya-karyanya yang mengusung aliran surealis ekspresif tersebut. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa