RADAR SURABAYA - Masyarakat Surabaya dan sekitarnya akhir-akhir ini merasakan fenomena bediding yaitu suhu dingin yang cukup signifikan di malam hari.
Anehnya, fenomena ini terjadi di tengah musim kemarau, di mana siang hari terasa panas terik.
Perubahan suhu yang drastis ini menimbulkan pertanyaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat.
Pakar Geologi ITS, Amin Widodo menjelaskan cuaca dingin tersebut dikarenakan adanya angin monsun dari Australia yang melewati wilayah Indonesia, khususnya Pulau Jawa, termasuk Surabaya.
"Suhu dingin di malam hari, yang bisa mencapai 18 derajat Celcius, disebabkan oleh angin monsun dari Australia. Indonesia, khususnya Pulau Jawa, NTT, dan NTB, merasakan dampak dari ekor angin tersebut. Posisi matahari juga berperan dalam penurunan suhu malam hari" terang Amin, Jumat (11/7).
Lebih lanjut, Amin menjelaskan, mekanisme angin muson.
Angin ini bertiup dari barat daya ke timur dan sebaliknya, dipengaruhi oleh letak geografis Benua Asia dan Australia yang diapit oleh Samudra Hindia dan Pasifik.
"Pada musim kemarau, langit cenderung cerah dan tidak berawan," terang Amin.
Hal ini menyebabkan radiasi panas matahari yang diterima bumi langsung dipancarkan kembali ke luar angkasa pada malam hari, tanpa terhalang awan.
Amin menegaskan bahwa suhu dingin ini bukanlah indikasi iklim ekstrem. "Setiap tahun suhu dingin seperti ini terjadi," ujarnya.
Namun, kali ini siklusnya agak lebih panjang, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang hanya berlangsung 2-4 hari.
Iklim ekstrem ditandai dengan suhu dingin yang sangat ekstrem hingga menyebabkan pembekuan.
Kondisi berbeda terjadi di dataran tinggi, di mana embun bisa membeku karena kadar oksigen yang rendah dan kadar CO2 yang tinggi.
Meskipun dampaknya di Surabaya tidak terlalu signifikan, Amin mengingatkan potensi dampak pada kesehatan.
"Dampaknya di Surabaya biasanya hanya pada kesehatan, seperti flu. Namun, jika kondisi tubuh fit, maka tidak akan mudah sakit," jelasnya.
Amin menyebut jika daerah pegunungan atau dataran tinggi, suhu dingin ini bisa berdampak buruk pada pertumbuhan tanaman, bahkan menyebabkan kematian jika terjadi pembekuan.
"Kalau di daerah pegunungan atau dataran tinggi biasanya pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman yang tumbuhnya kurang baik, bisa-bisa mati kalau menjadi beku karena adanya es,” pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari