RADAR SURABAYA – Penerapan jam malam anak yang mulai dijalankan Pemerintah Kota Surabaya dengan patroli rutin oleh tim gabungan, dinilai tidak cukup efektif jika tidak dibarengi keterlibatan orang tua dalam mengasuh anak. Aanggota DPRD Kota Surabaya menegaskan pentingnya peran keluarga sebagai benteng utama dalam membentuk karakter remaja.
Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya, Bahtiyar Rifai, menilai kebijakan pembatasan aktivitas anak di luar rumah mulai pukul 22.00 hingga 04.00 WIB harus didahului edukasi yang menyeluruh kepada masyarakat.
“Sebelum ada sweeping, sosialisasi harus dilakukan terlebih dulu. Bisa melalui media sosial atau grup RT/RW agar orang tua paham dan ikut menjaga anak-anak mereka,” ujar Bahtiyar.
Menurutnya, dukungan dari elemen masyarakat sangat penting agar aturan ini berjalan optimal. Baik RT, RW, maupun Kader Surabaya Hebat (KSH) diharapkan ikut mengawal kebijakan tersebut.
“Ini demi perlindungan dan masa depan anak-anak kita di Surabaya,” tegasnya.
Hal senada disampaikan Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Zuhrotul Mar’ah. Ia mengingatkan bahwa langkah penertiban semata tanpa pendekatan pendidikan dan pola asuh yang tepat hanya bersifat sementara.
“Kalau terlalu sering sweeping, nanti bisa berdampak ke sektor ekonomi kecil, misalnya warung kopi. Masyarakat jadi takut nongkrong karena berpikir negatif,” ujarnya.
Namun, ia juga menekankan pentingnya menjadikan kebijakan ini sebagai bentuk pendidikan kedisiplinan bagi generasi muda. Terlebih, jika anak-anak berkumpul di warkop hanya untuk memanfaatkan wifi gratis, maka harus ada pendampingan.
“Kalau untuk belajar atau nugas, tidak masalah. Tapi kalau ada indikasi judi online atau kegiatan negatif, harus diingatkan. Bisa juga pihak warkop bekerja sama dengan guru atau tokoh masyarakat,” tambahnya.
Zuhrotul juga menyoroti pentingnya peran Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) dalam memperkuat pemahaman pola asuh orang tua. Ia menilai, banyak kasus kenakalan remaja muncul karena lemahnya kontrol dari keluarga, terutama yang berada dalam kondisi ekonomi sulit.
“Kadang ada orang tua yang tidak bisa bayar SPP tapi masih beli rokok. Itu soal pola hidup. Kalau pola hidupnya tidak berubah, kebijakan apa pun akan percuma,” ungkapnya.
Karena itu, ia berharap Puspaga bisa lebih aktif turun ke lapangan untuk memberi edukasi tentang parenting dan pentingnya peran orang tua dalam membentuk karakter anak sejak dini. (dim)
Editor : Lambertus Hurek