RADAR SURABAYA – Rencana Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menjadikan game online seperti Mobile Legends sebagai ekstrakurikuler (ekskul) resmi di sekolah mulai tahun ajaran 2025/2026 dapat sorotan dari DPRD Kota Surabaya.
Alih-alih memperkuat karakter dan masa depan mereka. Kekhawatiran justru muncul kalau program ini justru bisa menjerumuskan siswa ke dalam jebakan adiksi gawai dan game.
Anggota DPRD Kota Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menegaskan bahwa sebelum kebijakan ini dijalankan, harus ada kajian mendalam yang menimbang manfaat dan mudaratnya secara jernih.
“Harusnya kajian dulu, seberapa banyak mudaratnya dan seberapa banyak manfaatnya. Jika lebih banyak mudaratnya dari tinjauan berbagai aspek, ya patut dipertimbangkan ulang,” kata dia.
Yona menyebut bahwa risiko kerusakan fisik, mental, hingga perubahan perilaku akibat kecanduan game online sudah nyata di depan mata.
Ia mengaku miris melihat Dispendik justru bersemangat menjadikan e-sport sebagai bagian dari kurikulum di tengah maraknya kasus kecanduan digital di kalangan remaja.
“Jangan sampai sudah tahu banyak mudarat, masih dipaksakan. Akhirnya rusak generasi kita,” ujarnya.
Menurutnya, rencana ini ironis dan berseberangan dengan visi besar pemerintah pusat dalam menyiapkan Generasi Emas 2045. Ia khawatir, kebijakan tersebut justru menjadi batu sandungan bagi lahirnya generasi tangguh masa depan.
“Ini sama sekali tidak relevan dengan program mempersiapkan Generasi Emas 2045. Anak-anak yang saat ini berusia 1-15 tahun adalah calon generasi tersebut,” kata legislator dari Fraksi Gerindra itu.
Sebagai alternatif, Yona menyarankan agar ekskul e-sport lebih tepat diberikan pada jenjang pendidikan tinggi, bukan di SMP atau SMA.
Menurutnya, siswa usia di bawah 18 tahun sebaiknya difokuskan pada pembentukan karakter melalui kegiatan yang membangun fisik, mental, dan moral.
“Untuk usia di bawah 18 tahun, harusnya kurikulum lebih menekankan pada pembentukan karakter dan attitude. Ekskulnya bisa seperti bela diri, futsal, seni tari, fotografi, dan Pramuka, yang lebih jelas manfaatnya,” sarannya.
Lebih jauh dia juga meminta agar Dinas Kesehatan terlibat memantau kesehatan mata dan kondisi psikologis siswa yang terlibat dalam ekskul e-sport jika rencana itu tetap berjalan.
“Apabila ditemukan indikasi pertambahan mata minus atau perubahan mental ke arah negatif, pemkot harus tegas menghentikan program ini,” pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari