RADAR SURABAYA - Dalam rangka memperingati Hari Kebaya Nasional, Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Jawa Timur menggelar Kebaya Fashion Parade 2025 yang berlangsung di Hotel Wyndham Surabaya, Rabu malam (2/7).
Acara ini turut menggandeng sejumlah organisasi perempuan dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Ketua FPPI Jawa Timur Yuli Andriyani menegaskan bahwa parade ini bukan sekadar ajang peragaan busana, melainkan upaya nyata dalam melestarikan warisan budaya bangsa.
"Kebaya adalah identitas nasional. Kita ingin menunjukkan bahwa melestarikan budaya bisa dilakukan dengan cara yang positif dan kreatif," ujar Yuli.
Tidak hanya dikenakan dalam acara formal saja, kebaya juga bisa dijadikan alternatif busana harian.
Seiring perkembangan zaman, kebaya telah dimodifikasi menjadi busana yang modern dan bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari, seperti ke kantor atau kegiatan sosial lainnya.
“Kebaya seperti janggan dan encim sekarang dipadupadankan dengan celana panjang. Ini menunjukkan bahwa budaya bisa fleksibel, tanpa kehilangan makna,” jelas Yuli Andriyani.
Tak hanya soal busana, FPPI juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.
Yuli menjelaskan bahwa FPPI turut bersinergi dengan berbagai instansi seperti BKKBN dalam kampanye pencegahan stunting, dan BNN dalam sosialisasi bahaya narkoba di kalangan perempuan.
“Perempuan tidak hanya tampil di atas panggung fashion, tapi juga aktif dalam peran kenegaraan. Kami ingin perempuan bisa menjadi motor penggerak di masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ita Puspitadewi yang hadir sebagai perwakilan dari Himpunan Ratna Busana, turut memberikan edukasi dan tips mengenai tata cara mengenakan kebaya sebagai busana nasional.
“Wastra Indonesia sangat indah dan penuh makna. Dalam memakai kebaya, semuanya ada aturannya. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dari rambut yang disanggul, kebaya yang dikenakan, hingga bawahan seperti batik atau songket. Aksesori seperti selendang dan selop tumit terbuka juga menambah kesan anggun,” kata Ita.
Tak hanya di panggung mode, kebaya kini semakin menjadi tren di berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan ibu-ibu pejabat.
Semakin banyak pameran yang menampilkan wastra Indonesia, menunjukkan bahwa kebaya tetap eksis di era modern.
Ditambahkan Yuli, FPPI Jawa Timur yang saat ini memiliki sekitar 80 anggota dan terus menggalang kolaborasi untuk memperkuat peran perempuan dalam pelestarian budaya, sekaligus mendorong keterlibatan aktif di ranah sosial dan kenegaraan. (sam/opi)
Editor : Nofilawati Anisa