RADAR SURABAYA - Pergantian menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan snack kemasan yang marak di media sosial mendapat sorotan tajam dari ahli gizi Lailatul Muniroh.
Ia menilai kebijakan ini menyimpan risiko kesehatan yang signifikan bagi penerima manfaat.
"MBG idealnya harus memenuhi seluruh kebutuhan zat gizi makro dan mikro," tegas Lailatul dalam keterangannya, Kamis (26/6).
Ia menekankan bahwa snack hanya sebagai selingan, bukan pengganti makanan utama. "Porsi snack ideal hanya 10 persen dari total kalori harian," tambahnya.
Penggunaan snack sebagai pengganti makanan utama hanya dibenarkan dalam situasi terbatas, seperti untuk lansia, pasien pasca operasi, atau individu sakit yang kesulitan mengonsumsi makanan utama. "Namun, itu pun bersifat sementara," jelasnya.
Penggantian MBG dengan snack secara konsisten, khususnya snack rendah gizi, berpotensi menimbulkan dampak buruk jangka pendek dan panjang.
"Jangka pendek, bisa mengurangi energi dan zat gizi, menurunkan konsentrasi dan produktivitas. Jangka panjang, anak-anak berisiko mengalami gizi buruk, anemia, hidden hunger, dan peningkatan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi," papar Lailatul.
Meskipun mengakui kepraktisan snack, Lailatul menyarankan solusi berupa penggunaan nutrient-dense snack snack yang kaya gizi.
"Snack tidak harus identik dengan makanan ringan rendah kalori. Snack bergizi seimbang bisa jadi solusi jika makanan utama tak tersedia, tapi ini tidak boleh terus-menerus," ujar ahli gizi dari Universitas Airlangga (Unair).
Untuk memastikan pelaksanaan MBG tepat sasaran, Lailatul merekomendasikan beberapa kebijakan, antara lain penetapan standar gizi nasional, integrasi data stunting, alokasi dana khusus, dan pemanfaatan pangan lokal bergizi tinggi.
"Libatkan ahli gizi dalam setiap intervensi dan lakukan monitoring secara kontinyu," tambahnya.
Lailatul memperingatkan konsekuensi serius jika praktik ini berlanjut. "Rendahnya potensi kognitif dan beban kesehatan jangka panjang akan menjadi tanggung jawab negara," tegasnya.
Ia menekankan pentingnya akses terhadap makanan bergizi sebagai hak dasar, bukan kompromi.
"Jika kita ingin generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global, ini harus dijamin," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari