RADAR SURABAYA - Bripka HP oknum anggota Polsek Tandes ditempatkan di sel khusus setelah dilaporkan melakukan pemerasan terhadap dua orang mahasiswa Vanessya, 23, dan Rayhan, 23, . Saat ini Bripka HP menjalani proses di Propam Polrestabes Surabaya.
"Sorenya ya begitu kami dapat pemberitaan. Kami dapat informasi bahwa ternyata itu salah satu diduga anggota kami (Polsek Tandes). Kami melakukan panggilan kemudian kami interogasi dan memang betul yang bersangkutan yang melakukan (dugaan pemerasan)," ujar Kapolsek Tandes AKP Julkifli Sinaga, Kamis (26/6).
Julkifli menambahkan, pihaknya lalu berkoordinasi dengan pimpinan dan Propam Polrestabes Surabaya. "Malam itu juga sekitar pukul 22.00 kita sudah serahkan ke Propam Polrestabes untuk kemudian ditindaklanjuti diamankan ke sel pengamanan khusus," terangnya.
Diketahui aksi pemerasan itu bermula saat korban Vanessya dan temannya Rayhan baru saja pulang dari menghadiri undangan pernikahan di Krian, Kamis (19/6).
Peristiwa bermula ketika mobil yang ditumpangi Vanessya dan temannya, Rayhan, 23, mengalami senggolan ringan dengan motor ibu-ibu di sekitar exit tol Tambaksumur, Waru.
Meski terjadi kesalahpahaman kecil, kedua belah pihak saling memaafkan. Usai itu, Rayhan menepikan mobil di bawah tol untuk mengecek kerusakan.
Namun, justru saat itulah muncul dua pria berboncengan motor yang mengaku sebagai bagian dari operasi gabungan TNI, Polri, Satpol PP, dan wartawan. Salah satu dari mereka mengenakan seragam polisi, sementara yang lain berpakaian ala preman.
“Salah satu dari mereka langsung menggebrak kaca mobil, minta buka jendela, lalu ngomel-ngomel, bilang anak saya dan temannya telah berbuat tidak baik. KTP dan kunci mobil langsung dirampas. Katanya mau dibawa ke Polda,” ujar ayah korban Vanessya Djumadi.
Rayhan dipaksa pindah ke kursi penumpang dan salah satu oknum polisi itu yang mengambil alih kemudi, sementara Vanessya duduk di belakang. Namun, bukannya dibawa ke Polda Jatim, keduanya justru diajak berputar-putar ke arah Wonokromo dan Ketintang.
“Mereka nggak boleh buka HP. Anakku bilang, ‘pak, orang tua saya sudah telepon terus dari tadi, saya izin kasih kabar’, malah dibentak,” katanya.
Aksi pemerasan mulai terjadi ketika mobil tiba di Jalan Ahmad Yani, tak jauh dari Excelso. Oknum tersebut meminta uang sebesar Rp 10 juta dengan dalih menyelesaikan permasalahan, meskipun Vanessya dan Rayhan merasa tidak melakukan kesalahan apa pun. Permintaan itu kemudian diturunkan menjadi Rp 7 juta.
Karena tak memiliki uang dalam jumlah besar, Vanessya menyebut hanya punya Rp 650 ribu. “Akhirnya disuruh ambil semua uang itu. Bahkan mereka dibawa ke minimarket dekat Excelso untuk tarik tunai dari ATM Rayhan,” jelasnya.
Tak hanya itu, ATM milik Rayhan juga dirampas sebagai ‘jaminan pelunasan’ sisanya, dan mereka diminta menyediakan uang tambahan keesokan harinya pukul 17.00.
Setelah menerima uang dan ATM, oknum tersebut langsung menghilang, bahkan menolak saat korban menawarkan mengantar ke Polda. Tak terima, Djumadi langsung mencari bantuan.
Ia membuat status WhatsApp (WA) berisi foto dan video yang diam-diam direkam Vanessya saat kejadian. Respon dari jaringan polisi yang mengenalnya pun berdatangan.
“Alhamdulillah, dari jaringan saya akhirnya diketahui pelakunya inisialnya Bripka H, berdinas di Surabaya. Saya langsung laporkan ke Propam Polda Jatim hari Jumat (20/6),” tegasnya. (rus/dik/gun)
Editor : Guntur Irianto