RADAR SURABAYA - Konflik yang terjadi antara Iran dan Israel di Timur Tengah berdampak pada kepulangan jemaah haji dan menimbulkan kekhawatiran bagi keberangkatan jemaah umrah selanjutnya.
Para penyelenggara umrah di Surabaya mendesak pemerintah untuk memberikan kepastian dan informasi terkini terkait keamanan perjalanan umrah.
Pemilik Andalus Travel Surabaya, Muhammad Ramli mengungkapkan dampak konflik tersebut terhadap bisnisnya.
Sebagai penyelenggara haji dan umrah, konflik di Timur Tengah ini jelas berdampak pada seluruh jemaah di Indonesia.
Oleh karena itu ia berharap pemerintah memberikan kepastian akan keamanan jemaah yang akan umrah pasca selesainya penyelenggaraan ibadah haji.
"Kami berharap pemerintah memberikan informasi dan kepastian keamanan agar kami bisa menjalankan umrah dengan lebih tenang. Setelah pulang membawa jemaah, kami selalu was-was," ungkap Ramli, Rabu (25/6).
Selain konflik antara Iran-Israel, Ramli juga menuturkan, ancaman bom di pesawat Saudi yang mendarat di Kualanamu beberapa hari lalu semakin meningkatkan kekhawatiran.
"Kejadian itu membuat jemaah ketakutan. Kami berharap pemerintah memberikan informasi segera, karena kami sebagai penyelenggara sudah membayar hotel dan pesawat. Informasi mendadak akan mengakibatkan kerugian besar," ujarnya.
Meskipun saat ini belum ada penundaan keberangkatan umrah, Ramli mengakui ada beberapa kendala seperti penutupan sejumlah bandara di Doha, Qatar.
"Beberapa teman yang berangkat melalui Qatar terdampak penutupan sementara bandara Doha. Pesawat Qatar dan Emirates tidak beroperasi beberapa hari ini. Kami menunggu informasi lebih lanjut kapan akan dibuka kembali," jelasnya.
Ramli mendesak pemerintah untuk memberikan informasi yang lebih cepat dan transparan kepada seluruh penyelenggara umrah melalui asosiasi seperti AMPHURI, HIMPU, KASTURI, dan ASPIRASI.
"Pertemuan segera diperlukan untuk menjaga keselamatan para jemaah umrah," tegas Ramli.
Ia juga menjelaskan dampak ekonomi jika keberangkatan jemaah umrah terhenti.
"Jika tidak ada keberangkatan, perekonomian kami akan stagnan. Ini sangat penting. Jika umrah tidak berjalan, tidak ada aktivitas. Mungkin kami akan menjalankan halal tour di Asia saja," ungkap Ramli.
Meskipun beberapa jemaah telah menanyakan keamanan perjalanan, Ramli menyatakan belum ada yang membatalkan keberangkatan.
"Saya sampaikan kepada jemaah untuk tetap yakin bahwa ini perjalanan spiritual, dan semoga konflik tersebut tidak meluas ke Saudi. Namun, tetap ada kekhawatiran akan kemungkinan human error, seperti kesalahan sasaran rudal," imbuhnya.
Ramli juga memastikan, hingga saat ini harga paket umrah tetap sama dan belum ada perubahan. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari