RADAR SURABAYA - Satu jemaah haji asal Kabupaten Malang, Jawa Timur, bernama Sukardi, dilaporkan hilang sejak 29 Mei lalu atau hampir satu bulan.
Hilangnya Sukardi terjadi sebelum puncak ibadah haji dan hingga saat ini jemaah yang tergabung dalam Embarkasi Surabaya kloter 79 tersebut belum ditemukan.
Pihak PPIH Debarkasi Surabaya terus berupaya melacak keberadaan Sukardi yang mengalami demensia.
Sekretaris PPIH Debarkasi Surabaya, Sugiyo, menjelaskan bahwa pencarian telah dilakukan secara intensif dengan komunikasi berbagai pihak.
“Secara resmi kami belum menerima laporan perkembangan jemaah tersebut. Namun, kami terus berkomunikasi dengan ketua kloter 79 dari Kabupaten Malang,” ujar Sugiyo, Senin (23/6).
Sukardi dilaporkan hilang dari kamar hotelnya 813 dua hari setelah tiba di Makkah.
“Informasi yang saya terima, Sukardi meninggalkan hotel pada 29 Mei, sebelum pelaksanaan puncak haji," jelasnya.
Petugas PPIH Arab Saudi, termasuk sektor Daker dan perlindungan jemaah (Linjam), masih melakukan pencarian di rumah sakit dan tempat-tempat lain yang memungkinkan.
Kondisi Sukardi yang menderita demensia sejak sebelum keberangkatan ke Tanah Suci turut menyulitkan pencarian, apalagi Sukardi berangkat tanpa pendamping.
Baca Juga: Iran Ancam Balas Serangan AS ke Fasilitas Nuklir: Dibalas Sepenuh Kekuatan!
Sugiyo mengaku pihak keluarga Sukardi juga sudah mengetahui kabar hilangnya jemaah 67 tahun itu.
Bahkan sejak berangkat ke bandara Juanda ingin pulang tapi kemudian diyakinkan dan akhirnya berangkat.
Lanjut Sugiyo, sampai di tanah suci penyakit demensia Sukardi kambuh bahkan sering masuk ke kamar jemaah lainnya hingga tas jemaah lainnya juga sering dibuka.
"Sejak awal keluarga sudah mengetahui karena pak Sukardi termasuk kategori demensia. Bahkan ketika di bandara beliau mau pulang ke rumah. Sampai di sana (tanah suci, Red) sering salah kamar dan juga tas jemaah lainnya juga sering dibuka," ungkap Sugiyo.
Ketua kloter telah berupaya mengantisipasi Sukardi keluar sendiri selama di tanah suci, namun karena adanya kelengahan saat melakukan ibadah, Sukardi pun hilang dari kamarnya.
Ia berangkat haji tanpa pendamping dan bahkan ibadah puncak hajinya dibadalkan oleh petugas haji.
“Jemaah tersebut berangkat sendiri, tidak ada pendampingnya. Ketika dicari, tidak ditemukan hingga puncak haji, akhirnya diputuskan untuk dibadalkan,” jelas Sugiyo.
Kejadian ini mendorong PPIH untuk melakukan evaluasi. Ia juga mengimbau kepada jemaah agar menjaga kesehatan sebelum berangkat haji ke depannya.
“Ke depan, kami akan mengevaluasi agar jemaah dengan kondisi kesehatan seperti ini tidak dipaksakan untuk berhaji. Bisa dibadalkan oleh keluarganya. Sehingga jika tidak mampu secara kesehatan, sebetulnya tidak berkewajiban,” tegasnya.
Sugiyo juga mengimbau kepada keluarga Sukardi untuk terus berdoa dan bersabar agar segera ditemukan dan bisa pulang ke tanah air dalam kondisi selamat.
"Ya semoga cepat ketemu dan keluarga bisa mendoakan agar proses pencarian berjalan lancar dan kembali ke tanah air," imbaunya.
Kasus Sukardi bukan satu-satunya. Terdapat dua jemaah haji Indonesia lainnya yang juga dilaporkan hilang dan belum ditemukan hingga saat ini, keduanya juga memiliki riwayat demensia.
Mereka adalah Nurimah, 80 tahun asal Embarkasi Palembang kloter 19, hilang sejak 28 Mei dari hotel 614, dan Hasbulah, 73 tahun asal Banjarmasin kloter 7, hilang sejak 17 Juni dari hotel 709.
Pihak PPIH Arab Saudi terus berupaya maksimal untuk menemukan ketiganya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari