Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Kecanduan Judol, Puluhan Pasien Jalani Perawatan di RS Menur Surabaya

Rahmat Sudrajat • Senin, 23 Juni 2025 | 04:27 WIB

 

Rumah Sakit Menur menjadi pusat perawatan dan pengobatan bagi pasien dengan masalah gangguan kejiwaan dan Kesehatan mental.
Rumah Sakit Menur menjadi pusat perawatan dan pengobatan bagi pasien dengan masalah gangguan kejiwaan dan Kesehatan mental.

RADAR SURABAYA - Rumah Sakit Menur Provinsi Jawa Timur melaporkan peningkatan signifikan kasus pasien dengan gangguan kecanduan judi online (judol). 

Direktur Utama RS Menur, drg. Vitria Dewi, mengungkapkan bahwa jumlah pasien yang ditangani terus meningkat. Bahkan, tahun ini jumlah pasien judol lebih banyak dari tahun lalu, meski masih di awal tahun.

"Pada tahun 2024, kami menangani 68 pasien. Angka ini meningkat menjadi 51 pasien hingga April 2025," ujarnya, Minggu (22/6).

Ia memprediksi angka tersebut akan terus meningkat di akhir tahun, namun berharap upaya pencegahan dapat menekan laju peningkatan kasus.

"Meskipun satu aplikasi judi online ditutup, akan muncul seribu aplikasi lainnya. Ini menunjukkan betapa sulitnya memerangi judi online," tambah drg. Vitria. 

Ia menekankan pentingnya ketahanan mental keluarga dalam menghadapi permasalahan ini.

Ia juga menyebut rentang usia pasien yang ditangani RS Menur sangat bervariasi, mulai dari usia 14 tahun hingga 70 tahun. 

"Ada yang menjalani rawat jalan, dan ada juga yang membutuhkan perawatan inap dengan dukungan tim dokter spesialis jiwa dan psikolog," jelas drg. Vitria.

Drg. Vitria berharap adanya kerja sama berbagai pihak, termasuk Polda Jatim, Kominfo, Dinas Pendidikan, dan masyarakat, untuk mencegah maraknya judi online.  

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Gubernur Jawa Timur, Ibu Khofifah Indar Parawansa, atas dukungan yang diberikan kepada RS Menur dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien. 

"Pasien yang dirawat di sini belum tentu mampu membiayai pengobatan mereka sendiri," imbuhnya.

Penyebaran judi online di Jawa Timur, menurut drg. Vitria, merata di semua wilayah, baik di kota besar maupun pedesaan. "Kami menerima rujukan dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur," ujarnya.  

Ia juga menyebut pengobatan kecanduan judi online membutuhkan waktu yang panjang dan proses yang kompleks, mengingat dampaknya pada fungsi otak dan perilaku pasien.

"Jadi nggak serta merta langsung sembuh karena yang diserang kan fungsi otaknya berbeda dengan penyakit lainnya," tegasnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS Menur, dr. Rifatul Hasna menambahkan, kasus penggunaan napza juga ditemukan pada sebagian pasien yang kecanduan judol. 

"Dari observasi terdapat pasien yang menggunakan napza untuk meningkatkan keberanian mereka dalam bermain judi online," terang dr. Hasna.

Ia menyebut data hingga April 2025 menunjukkan dari 51 pasien, 35 menjalani rawat jalan dan 16 menjalani rawat inap dan di IGD. 

Data bulan Mei menunjukkan dari 31 pasien, hanya 8 yang tidak pernah mengakses judi online.

"Untuk pasien napza bulan Mei ada 31 orang yang dirawat hanya 8 orang yang tidak pernah mengakses judol. Sedangkan 23 pasien Napza menggunakan judol, 8 orang hampir setiap hari menggunakan napza dan bermain judol dan 6 orang menggunakan napza sembari bermain judol setiap minggu," ungkap dr. Hasna.

Ia juga menjelaskan inovasi pengobatan yang diterapkan RS Menur, yaitu program Piala Oscar yang menggabungkan pendekatan medis, terapi komunitas, dan dukungan spiritual. 

"Konsepnya adalah rehabilitasi terpadu yang memperhatikan aspek medis, sosial, dan spiritual," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#napza #surabaya #pasien #judol #kesehatan mental #kesehatan #rs menur