RADAR SURABAYA - Menjadi petugas haji, apalagi sebagai ketua kloter, bukanlah tugas mudah.
Ahmad Allauddin, Ketua Kloter SUB 16 Jemaah Haji Surabaya, berbagi kisah suka dan duka selama menjalankan tugasnya di tanah suci tahun ini.
Berbagai tantangan, mulai dari distribusi nusuk oleh syarikah yang terkendala, transportasi selama di Arafah, Muzdalifah, Mina (Armuzna) yang terbatas hingga beredarnya isu petugas yang "nebeng" berhaji juga turut menjadi sorotan.
Allauddin menceritakan selama di tanah suci ia bersama dengan kloter 16 terpisah dan tersebar di 19 hotel, 6 sektor, dan 4 wilayah.
Ia setiap hari melakukan visitasi ke seluruh lokasi tersebut bersama dengan pembimbing dan dokter.
"Ini tidak mudah, ini perjuangan petugas. Dari satu wilayah ke wilayah lain harus berjalan kaki dari terminal ke terminal. Semua ini demi jemaah yang kita sambangi, agar mereka tetap merasa terlindungi dan tidak ditinggalkan petugas," jelasnya, Selasa (17/6).
Tantangan terbesar yang dihadapi Allauddin adalah distribusi nusuk yang tidak terkoordinasi dengan baik.
Ia menjelaskan, nusuk sudah dibagikan sejak di Madinah ketika hendak menuju ke Makkah oleh pihak syarikah tanpa memberi tahu pihak sektor maupun petugas kloter. Sistem pembagiannya dilakukan malam hari di lobi hotel.
"Jemaah tersebar di berbagai hotel, sehingga banyak yang kesulitan menemukan nusuk. Walaupun akhirnya semua terdistribusi menjelang Armuzna, tetap ada beberapa jemaah yang belum menerimanya, tapi mereka sudah menginstal aplikasi nusuk sehingga tetap bisa berangkat ke Armuzna," terangnya.
Ia menambahkan, waktu pembagian nusuk sangat mepet karena syarikah tidak mau kerja sama dengan pihak sektor, sektor memanggil ketua kloter.
Lebih lanjut pria yang menjabat Ketua Tim Humas, Protokol dan Sistem Informasi Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur ini mengaku selama Armuzna, jemaah dikelompokkan berdasarkan khalifah, bukan kloter.
Sehingga Allauddin harus mengumpulkan jemaah dari berbagai kloter dan hotel yang sebelumnya tidak saling kenal.
Terkait transportasi, Allauddin menjelaskan bahwa bus dari Muzdalifah ke Mina sebenarnya ada.
"Tetapi jemaah yang tidak sabar dan lalu lintas yang macet membuat banyak jemaah berjalan kaki, menghambat jalur bus. Alhamdulillah, sebelum pukul 10, semua jemaah sudah sampai di Mina," ungkapnya.
Menanggapi isu petugas haji yang "nebeng" berhaji, Allauddin menegaskan, tidak semua petugas haji seperti itu.
"Saya sendiri mengutamakan pelayanan. Saya hanya umrah sunah dua kali. Kalau saya mau umrah berkali-kali, bisa. Tapi saya tidak melakukannya karena waktunya lebih baik digunakan untuk melayani jemaah haji," tegas Allauddin.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Allauddin juga merasakan suka cita dalam menjalankan tugasnya.
Allluddin dan jemaah di kloter 16 sudah tiba di Asrama Haji Debarkasi Surabaya sejak Senin (16/6) sore.
"Dukanya harus terpisah dari jemaah di berbagai wilayah, apalagi harus melakukan visitasi ke banyak hotel. Sukanya bisa menemui jemaah, bahkan di hotel yang tidak ada petugas sama sekali," tuturnya.
"Jemaah dari berbagai daerah merasa terlayani dan terlindungi oleh petugas kloter, meskipun bukan dari kloter mereka sendiri," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari