RADAR SURABAYA – Pemberantasan praktik juru parkir (jukir) liar dan premanisme di Kota Surabaya akan semakin masif. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyatakan kesiapannya turun langsung bersama jajaran TNI-Polri untuk menindak tegas para pelaku yang kerap meresahkan masyarakat.
Eri turun langsung ke salah satu minimarket di kawasan Merr, Surabaya. Ia menjumpai seorang jukir liar yang berada di parkiran. Eri sempat mempertanyakan keabsahan karcis parkirnya. Namun, pria tersebut hanya minta maaf. Ia kemudian didata dan diminta identitasnya untuk dikenakan sanksi oleh Satpol PP Surabaya.
“Kalau tidak berani melawan, telfon, nanti kita datangi bersama. Tadi pagi saya sudah apel dengan kepolisian, kodim, mereka siap apapun kalau ada preman mereka siap disikat sama mereka sama pemerintah kota,” ujar Eri.
Langkah konkret juga disiapkan dalam bentuk sistem parkir berlangganan yang akan diberlakukan mulai bulan depan. Masyarakat hanya diperbolehkan membayar parkir menggunakan karcis berlangganan yang akan ditetapkan secara resmi oleh pemerintah kota di sejumlah titik.
“Nanti saya akan buat titik-titik di Surabaya ini parkir berlangganan. Kalau sudah saya tentukan, maka orang Surabaya harus bayar pakai karcis parkir berlangganan. Jangan bayar pakai uang,” tegasnya.
Menurutnya, sistem ini diterapkan bukan sekadar efisiensi, melainkan juga sebagai langkah edukasi terhadap warga agar tidak terus-menerus dimanfaatkan oleh jukir liar yang tidak resmi.
“Pokoknya warga Surabaya bayar tidak pakai karcis berlangganan, warga saya sanksi, jukir saya sanksi. Laporannya nanti bisa langsung ke TNI dengan nomor khusus, Polri sudah ada, Pemkot juga sudah,” imbuhnya.
Eri juga memastikan bahwa identitas warga yang menolak membayar menggunakan karcis resmi akan diumumkan di media sosial (medsos) sebagai bentuk sanksi moral. “Yang tidak mau bayar karcis berlangganan, namanya saya umumkan di media sosial. Kita mau edukasi warga ini agar Surabaya lebih baik lagi,” ucapnya.
Dia menekankan, Surabaya adalah milik bersama dan harus dijaga dari pihak-pihak yang hanya ingin mengambil keuntungan pribadi. “Warga Surabaya ini 3,1 juta, kalau ada preman 10–30 orang, remuk mereka. Ini negara kita, ini kota kita. Ayo semua warga Surabaya tangio,” tutup Eri. (dim/gun)
Editor : Guntur Irianto