Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Pakar Teknologi Pembelajaran: Ajarkan Matematika pada Anak, Sebaiknya Pakai Pendekatan yang Menyenangkan dan Efektif

Rahmat Sudrajat • Selasa, 27 Mei 2025 | 17:03 WIB

 

Ilustrasi pembelajaran siswa SD.
Ilustrasi pembelajaran siswa SD.

RADAR SURABAYA - Metode unik seorang guru kelas VI SDN Sememi 1 Surabaya yang mewajibkan siswa menggunakan topeng saat ujian matematika pada Oktober 2024 lalu, kembali menjadi sorotan.

Meskipun bertujuan mencegah kecurangan, metode ini menuai beragam tanggapan, termasuk dari kalangan akademisi.

Pakar Teknologi Pembelajaran, Prof. Dr. Riyanto, M.Pd, menilai metode tersebut kurang tepat.

Yang dilakukan guru sekolah dasar (SD) tersebut lebih mendahulukan karakter moral daripada kemampuan kognitif.

Meski jujur, rajin, disiplin, tekun dan ulet penting karena kunci keberhasilan untuk penanaman karakter, terutama pada anak usia SD.

"Penanaman karakter lebih penting dibandingkan dengan kemampuan sains, teknologi, engineering dan matematika (STEM) terlebih pada anak usia SD," tegas Prof. Riyanto, Senin (26/5).

Prof. Riyanto mencontohkan ungkapan, “Para guru di negara maju, kami tidak khawatir di saat anak didik kami tidak paham matematika, kami lebih khawatir di saat mereka tidak tahu untuk mengantre”.  

Ia menjelaskan, ungkapan tersebut benar karena untuk membuat anak mampu membaca, menulis, berhitung atau menaikkan nilai akademik, hanya perlu waktu 3-6 bulan saja dengan secara intensif mengajarkannya. 

"Tetapi untuk mendidik perilaku moral seorang anak, dibutuhkan waktu lebih dari 15 tahun," ujar Guru Besar Teknologi Pembelajaran Universitas Bengkulu (UNIB) ini.

Mengutip penelitian Harvard University (National Soft Skills Association, 2015), Prof. Riyanto menambahkan, penelitian tersebut mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 15 persen oleh hard skill dan sisanya 85 persen oleh soft skill. Oleh karena itu, perlu fokus pada pengembangan soft skill lebih penting.

 "Cara yang dilakukan oleh guru SD tersebut masih mengandung kelemahan, diantaranya ribet maupun tidak nyaman. Padahal ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh siswa untuk berbuat tidak jujur. Misalnya, siswa minta bantuan AI melalui smartphone, membuat catatan kecil yang disembunyikan (kerpekan), dan lain-lain," terangnya.  

Dosen Prodi PGPAUD FKIP UNIB sekaligus penulis buku matematika itu menambahkan, penggunaan topeng juga bisa menimbulkan rasa takut terhadap matematika. 

"Mereka berfikir bahwa memang matematika adalah sulit. Ditambah lagi, hasil ujian yang biasa saja. Untuk itu, perlu dicarikan alternatif lain yang lebih baik, efektif, dan efisien," imbuhnya.

Sebagai alternatif, Prof. Riyanto menyarankan pendekatan yang lebih menyenangkan dan efektif.

Karena menurutnya matematika diciptakan untuk menangani masalah di sekitar kita secara efektif dan efisien. 

"Konsep-konsep matematika diformulasikan dari kehidupan di sekitar kita," tegasnya. 

Ia menekankan pentingnya mengajarkan matematika sebagai proses penelusuran pola, kreativitas, pemecahan masalah, dan alat komunikasi.

Lebih lanjut, Prof. Riyanto menjelaskan bahwa dalam pembelajaran matematika terkandung nilai-nilai karakter bangsa seperti kejujuran, ketelitian, dan kelogisan.  

Ia juga menyarankan penggunaan berbagai metode pembelajaran yang berpusat pada siswa, seperti diskusi kelompok, bermain peran, dan pembelajaran berbasis proyek.  

"Selain itu, kerjasama, kerja keras, cinta tanah air, dan lain-lain. Dalam penilaian kelas seperti jurnal, portofolio, tes, proses juga terkandung kejujuran, ketelitian, ketepatan, maupun kecepatan. Untuk tingkat SD penanaman nilai karakter bangsa dilakukan, terutama melalui pembelajarannya," ujar lulusan S1 IKIP Surabaya atau sekarang Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.

Prof. Riyanto menyarankan penggunaan metode bermain, media pembelajaran interaktif, dan pembelajaran kooperatif untuk membuat pembelajaran matematika lebih menarik dan efektif bagi siswa SD.

"Guru dapat membuat permainan matematika yang melibatkan manipulasi benda-benda seperti biji-bijian, Natur (modifikasi ular tangga, Red), blok bangunan, sulap, teka-teki, dan kartu angka," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#surabaya #topeng #matematika #metode pembelajaran #soft skill #pendidikan #Hard Skill #Pendekatan