RADAR SURABAYA – Dalam sehari Kota Surabaya menghasilkan sampah di angka 1.800 ton. Dari angka 1.800 ton ini, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo berkisar di angka 1.400 sampai 1.500 ton, yang mana 22 persen di antaranya adalah sampah plastik.
Belum lagi sampah organik yang jumlahnya lebih besar, jika hanya dibuang ke TPA pemanfaatannya akan kurang. Sangat penting untuk dilakukan pengolahan sampah organik sehingga lebih bermanfaat.
Untuk mengurangi banyaknya sampah yang dibuang ke TPA, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengelola sampah secara mandiri di lingkungan perkampungan.
Adanya pengelolaan sampah mandiri di perkampungan, secara tidak langsung akan mengurangi timbunan sampah di TPA Benowo.
Pengolaan sampah mandiri bisa menerapkan berbagai cara, mulai dari mendirikan bank sampah, rumah kompos, budidaya maggot, hingga bisa diolah menjadi pakan ternak.
Dengan cara ini, maka lingkungan perkampungan di Kota Surabaya akan semakin bersih dan terbebas dari sampah ke depannya.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, untuk mengatasi sampah tidak bisa berjalan maksimal jika harus dilakukan sendiri oleh pemerintah kota.
Dalam mengelola sampah, pemkot membutuhkan semangat gotong royong dan inovasi warga Surabaya.
Seperti rumah kompos yang dilakukan oleh warga RW 09 Rungkut Kidul, Kelurahan Rungkut, Kecamatan Rungkut ini.
“Rumah Kompos ini tidak sekedar menjadi tempat pengelolaan sampah, daun, dan rumput, namun juga menjadi simbol semangat gotong-royong dan inovasi warga Surabaya dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah perkotaan,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya, Dedik Irianto saat membacakan sambutan Wali Kota Eri Cahyadi dalam peresmian Rumah Kompos di RW 09 Rungkut Kidul, Sabtu, (24/5).
Dedik menyampaikan, wali kota mengapresiasi warga RW 09 Rungkut Kidul karena telah memiliki pengolaan sampah mandiri.
Menurutnya, rumah kompos ini bisa dijadikan percontohan di wilayah perkampungan lainnya.
Ini tidak hanya sebagai sarana tempat untuk pengelolaan sampah, akan tetapi juga menjadi sumber energi listrik melalui panel surya.
Pembangunan rumah kompos di RW 09 Rungkut Kidul tidak hanya dilakukan sendiri oleh warga, akan tetapi turut melibatkan Yayasan Bumi Bhakti Foundation, Yayasan Dana Paramita Majapahit, dan Politeknik Negeri Madura.
“Dengan penggunaan panel surya sebagai sumber dan energi serta alat pengukur karbon udara yang terhubung secara daring, saya melihat rumah kompos ini sebagai proyek percontohan yang patut direplikasi di wilayah lain,” ujarnya.
“Saya juga mengapresiasi bagaimana rumah ini dibangun dengan dilandasi oleh kepercayaan, transparansi dan semangat partisipatif dari masyarakat. Semangat inilah yang menjadi roh pembangunan Kota Surabaya,” imbuhnya.
Pihaknya berharap, adanya rumah kompos ini tidak hanya sebagai sebagai sarana untuk mengurangi volume sampah di TPA Benowo.
Akan tetapi, ia juga ingin, adanya rumah kompos tersebut bisa menciptakan nilai ekonomi baru bagi warga sekitar.
“Jadi bisa dengan pembuatan pupuk organik, penanaman sayur mayur itu bisa melibatkan warga sekitar, sehingga dengan cara ini bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar. Selain itu, saya juga berharap, inisiatif ini juga mendukung upaya kita menuju Surabaya Kota Hijau dan berketahanan iklim,” harapnya.
Darurat sampah tidak hanya menjadi permasalahan di Kota Surabaya, akan tetapi juga menjadi permasalahan di berbagai daerah di Indonesia.
Maka dari itu, Dedik mengajak, masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya melakukan pengolaan sampah secara mandiri.
Jika sampah tidak dikelola dengan baik, maka akan meningkatkan jumlah timbulan sampah di TPA Benowo ke depannya.
Untuk mengurangi timbulan sampah, pemkot melalui DLH Surabaya telah mengembangkan sebanyak 600 bank sampah. Selain itu, pemkot juga memiliki rumah kompos di 27 titik di Kota Surabaya.
“Nah, di luar itu memang banyak rumah kompos yang dibangun masyarakat, salah satunya di Rungkut Kidul ini. Jadi memang seperti yang disampaikan dalam sambutan Pak Wali, penanganan masalah sampah tidak mungkin pemerintah bisa mengatasi sendiri,” pungkasnya. (dim/nur)
Editor : Nurista Purnamasari