RADAR SURABAYA - Intan Kusumaningrum guru kelas VI A SDN Sememi 1 Surabaya ini yang viral di TikTok maupun Instagram karena mengajak para siswanya menggunakan topeng ketika mengerjakan soal-soal matematika pada penilaian harian di dalam kelas.
Intan ternyata mempunyai berbagai macam inovasi pembelajaran yang tidak menjenuhkan di dalam kelas.
Hal itu menurut Intan, sebagai pembentukan karakter siswa di sekolah.
Bahkan, Intan mengaku mendapat apresiasi dari kepala sekolah dan wali murid tentang metode pembelajaran yang unik dengan menggunakan topeng saat mengerjakan soal-soal matematika dengan menggunakan topeng.
Intan menjelaskan, awal mula ide bertopeng ketika itu dari adiknya yang mengirimkan video kepadanya.
Dia pun mencoba siapa tahu siswa di kelasnya lebih have fun.
Akhirnya, ia mencoba di kelas ketika penilaian harian matematika Oktober 2024 dengan meminta anak-anak membawa topeng.
"Ya saya bilang anak-anak untuk membawa topeng, nanti ada surprise dari Bu Intan. Tapi kalau nggak punya tidak apa-apa. Kalau mau usaha Bu Intan acungi jempol pokoknya tidak memberatkan orang tua," ungkap Intan, Sabtu (25/5).
Ide tetsebut ternyata mendapat respons dari wali murid, bahkan ada yang sampai menanyakan langsung ke Intan untuk menanyakan berbagai topeng yang dimiliki siswa.
Ada yang mempunyai topeng barongan, Hulk, Batman hingga Spiderman.
"Tenyata orang tua wali murid support dan langsung respons, bahkan ada yang membawa topeng barongan. Sampai ada yang WA saya kalau pakai topeng barongan bagaimana?," ujarnya.
Guru lulusan PGSD Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini juga menggunakan topeng yang dibuatnya sendiri saat di sekolah.
"Saya saat itu pakai topeng labu yang saya buat sendiri, mulai desain, nge-print di sekolah dan laminating," imbuhnya.
Lebih lanjut Intan menjelaskan, saat hari H pelaksanaan penilaian harian matematika seluruh siswanya kompak menggunakan topeng dengan berbagai macam.
Ketika itu para siswa hanya 10 menit menggunakan topeng saat mengerjakan soal-soal matematika.
Mereka pun kata Intan tidak bisa menoleh untuk mencontek, sehingga para siswa fokus mengerjakan soal yang diberikan.
"Pas hari H kita pakai topeng cuma 10 menit karena pakai topeng riweh kemudian 10 menit berjalan lebih fokus. Dan kalau lihat temannya yang lain lucu, jadi mereka fokusnya kepada soal matematika. Nyontek pun juga tidak bisa karena sulit juga untuk menengok kanan kiri," tutur Intan.
Dari sini Intan memberikan pelajaran bermakna bagi siswanya dengan lebih percaya diri.
Apalagi mengerjakan soal matematika yang banyak siswa menganggapnya sebagai momok, pelajaran yang sulit.
"Nah, dari menggunakan topeng mengambil pelajarannya meskipun susah tapi harus percaya diri. Disamping have fun saya menitipkan pesan yang tersirat itu untuk lebih percaya diri dan tidak mencontek," ungkap Intan.
Meski hasil penilaian matematika menurut intan biasa saja, namun ia lebih menanamkan pembentukan karakter dari penilaian tersebut.
Nilai hanya sebuah angka tapi pribadi yang berkarakter harus lebih lebih kuat.
"Hasilnya biasa tidak yang ok-ok saya lebih menanamkan karakter siswa. Jadi pribadi yang lebih baik, nilai itu bonus," tegasnya.
Setelah penilaian matematika dengan menggunakan topeng, Intan mengaku para siswanya kemudian menanyakan kembali besok pakai metode yang lain biar seru.
"Jadi mereka menanyakan lagi dan lebih bersemangat," ujarnya
Namun, penggunaan topeng itu kini tidak diterapkan lagi, Intan terus berpikir dengan metode lain yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas agar pembentukan karakter bisa lebih baik.
Juga mereka mempunyai kesan tersendiri di dalam kelas saat pelajaran.
"Saya tetap mau berinovasi, have fun, tetap ada penanaman karakter. Misalnya ada Jumat cerita, di mana mereka menulis cerita tanpa menyebut nama. Saya akan simpan dan dari situ saya tahu problem anak-anak di sekolah maupun di rumah," jelasnya.
Ia berharap agar inovasi pembelajarannya untuk membentuk karakter siswa di era sekarang. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari