RADAR SURABAYA - Surabaya, kota yang dikenal dengan semangat perjuangannya, memiliki cara unik dalam merayakan hari jadinya.
Salah satu tradisi yang selalu dinanti adalah Festival Rujak Uleg, sebuah perayaan kuliner khas yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kota Pahlawan.
Festival Rujak Uleg pertama kali digelar pada tahun 2004 oleh Pemerintah Kota Surabaya sebagai upaya melestarikan kuliner khas daerah, khususnya rujak cingur.
Seiring berjalannya waktu, festival ini berkembang menjadi ajang tahunan yang menarik ribuan peserta dan wisatawan.
Bahkan, pada tahun 2019, festival ini berhasil mencetak rekor MURI untuk cobek terbesar dan jumlah peserta mengulek rujak cingur.
Festival ini bukan sekadar ajang kuliner, tetapi juga memiliki nilai budaya yang kuat.
Pada tahun 2021, rujak cingur resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Kemendikbudristek, semakin memperkuat posisinya sebagai ikon kuliner Surabaya.
Prosesi mengulek rujak secara massal dalam cobek batu raksasa menjadi daya tarik utama festival ini, mencerminkan semangat kebersamaan warga Surabaya.
Setiap tahun, festival ini menjadi bagian dari rangkaian acara Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) yang jatuh pada bulan Mei, tepatnya tanggal 31 Mei.
Tahun ini, Festival Rujak Uleg akan digelar pada 17 Mei 2025, dengan tema "Semesta Rujak Uleg", yang menggambarkan dimensi budaya, sejarah, dan potensi ekonomi dari kuliner khas ini.
Dengan dilibatkannya komunitas kuliner dan pelaku UMKM, menjadikannya sebagai ajang promosi sekaligus pemberdayaan ekonomi lokal.
Selain aksi massal mengulek rujak, festival ini juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni budaya, parade busana, serta stan UMKM yang menawarkan beragam kuliner.
Pemerintah Kota Surabaya berharap festival ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga memperkuat kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya kota.
Dengan semangat kebersamaan dan pelestarian budaya, Festival Rujak Uleg terus menjadi simbol kebanggaan warga Surabaya.
Tradisi ini tidak hanya mempertahankan kuliner khas, tetapi juga memperkuat identitas kota sebagai pusat budaya dan sejarah di Indonesia. (opi)
Editor : Nofilawati Anisa