Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Piala Dunia 2026 Selebriti Sidoarjo Surabaya Surabayapedia Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Mantan Pimpinan Jamaah Islamiyah Ingatkan Bahaya Radikalisme yang Tersebar di Media Sosial pada Peringatan 7 Tahun Bom Gereja di Surabaya

Rahmat Sudrajat • Rabu, 14 Mei 2025 | 14:38 WIB

 

BAWA PESAN: Nasir Abas yang dulu merupakan mantan pemimpin Jamaah Islamiyah dan mantan napiter saat datang pada peringatan 7 tahun peringatan bom 13 mei di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.
BAWA PESAN: Nasir Abas yang dulu merupakan mantan pemimpin Jamaah Islamiyah dan mantan napiter saat datang pada peringatan 7 tahun peringatan bom 13 mei di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela.

RADAR SURABAYA - Peringatan tujuh tahun tragedi bom tiga gereja di Surabaya pada 13 Mei 2018, yang digelar di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Surabaya Selasa (13/5) malam, membawa pesan penting dari mantan pimpinan Jamaah Islamiyah (JI), Nasir Abas. 

Nasir, yang kini menjadi pembina di Forum Komunikasi Aktivis Akhlakulkarimah Indonesia (FKAAI), mengingatkan masyarakat akan bahaya penyebaran paham radikalisme melalui media sosial.

"Kita harus waspada agar tidak ada yang terpengaruh, karena saat ini paham radikal tersebar luas di media sosial dan internet. Seseorang bisa direkrut hanya dengan membaca konten-konten tersebut,” paparnya. 

“Masyarakat harus tetap waspada dan menjaga diri agar tidak terpengaruh oleh hal-hal yang menimbulkan kebencian, permusuhan, dan intoleransi," tegas Nasir.

Ia menekankan bahwa radikalisme bertentangan dengan ajaran agama dan nurani. Mereka yang berpikiran radikal tidak benar-benar mengatasnamakan agama, melainkan salah memahami ajaran agama karena minimnya nurani. 

"Mereka menggunakan agama untuk membenarkan perbuatan mereka," jelasnya.  

Nasir, yang pernah ditahan pada tahun 2003, berharap para mantan napiter dan mereka yang masih menganut paham radikal untuk berhenti.

"Harapan kami, mereka yang masih melakukan perbuatan ini untuk berhenti karena bertentangan dengan agama dan nurani," harapnya.  

Acara peringatan tersebut juga dihadiri beberapa mantan napiter yang telah bertobat.

Lebih lanjut dia, meskipun aparat keamanan telah berhasil menjaga keamanan negara selama dua tahun berturut-turut, Nasir mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga.

"Zero attack adalah keberhasilan aparat, tetapi bukan berarti penyebaran paham radikalisme berhenti. Kita harus tetap waspada," tegasnya.

Ketua Pelaksana Peringatan Tujuh Tahun Bom Tiga Gereja di Surabaya, Wicaksana Isa Nugraha menambahkan, rencana ke depan untuk lebih fokus pada aspek pendidikan dan seminar.  

"Karena masalah intoleransi akarnya di pendidikan, sehingga kami akan fokus ke sana. Kalau ruang seremonial kurang cocok untuk anak muda, kita cari model yang signifikan supaya anak muda hadir dan berkontribusi bagi masyarakat," jelas Wicaksana.

Tragedi bom bunuh diri 13 Mei 2018 di tiga gereja, yakni Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuna, Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (GKSMTB) di Jalan Ngagel Madya, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro mengakibatkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#media sosial #nasir abas #jamaah islamiyah #radikalisme #surabaya #tragedi bom surabaya 2018 #Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela Surabaya #tragedi bom tiga gereja di Surabaya