Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Warisan Sejarah Koblen Surabaya Dihidupkan Kembali Lewat Lomba Lukis dan Sketsa untuk Generasi Muda 

Rahmat Sudrajat • Selasa, 13 Mei 2025 | 22:03 WIB

 

BERSEJARAH: Kehidupan tahanan di Penjara Bubutan, Surabaya yang dilukiskan oleh Subur Theo pada masa kependudukan Jepang.
BERSEJARAH: Kehidupan tahanan di Penjara Bubutan, Surabaya yang dilukiskan oleh Subur Theo pada masa kependudukan Jepang.

RADAR SURABAYA - Dalam upaya melestarikan budaya lokal di tengah modernisasi yang kian deras, upaya menjaga warisan budaya menjadi tanggung jawab bersama.

Diharapkan adanya peran generasi muda sebagai pewaris nilai-nilai luhur bangsa semakin penting dalam memastikan budaya lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman. 

Komitmen untuk menumbuhkan semangat pelestarian budaya inilah yang mendorong Puri Aksara Rajapatni berkolaborasi dengan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menyelenggarakan Lomba Sketsa dan Lukis Tembok Koblen khusus siswa-siswi SMA/sederajat.

Pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono, menekankan ajang ini tidak sekadar menjadi wadah unjuk kreativitas pelajar SMA/sederajat, melainkan juga sebuah perjalanan mengenali sejarah Surabaya dari sisi yang jarang diangkat. 

“Tembok Koblen bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah saksi bisu perjuangan rakyat, perkembangan kota, dan perubahan zaman. Kami ingin para peserta menyelami makna itu, memvisualisasikan bukan hanya bentuk fisik tembok, tapi juga suasana kehidupan masa lalu di baliknya," ungkap Nanang, Selasa (13/5).

Dalam tahap penjurian, terdapat ketentuan bahwa karya harus menampilkan unsur Tembok Koblen, imajinasi suasana kehidupan di masa silam, serta penulisan aksara Jawa bertuliskan Koblen.

Disamping itu, para peserta juga akan melalui sesi briefing khusus dan observasi langsung di lokasi sebelum menuangkan gagasan mereka di atas kanvas atau kertas gambar.

"Semoga lomba ini menjadi momentum bagi anak-anak muda untuk bangga pada kotanya, mencintai sejarahnya, dan meraih masa depan yang lebih tinggi lewat pendidikan," harap Founder Rajapatni ini.

Ketua Yayasan Perguruan Tinggi 17 Agustus 1945 (YPTA) Surabaya, J. Subekti, menyatakan bahwa lomba ini juga bagian nyata dari semangat dan komitmen Untag Surabaya sebagai Kampus Nasionalis yang tidak pernah lelah mendukung pelestarian budaya nasional. 

"Kami percaya, setiap upaya menjaga budaya bangsa adalah investasi jangka panjang bagi karakter generasi muda. Karena itu, bagi kami di Untag Surabaya, mendukung lomba ini adalah bagian dari tugas kami sebagai institusi pendidikan yang peduli pada warisan budaya," ujar Subekti.

Sebagai bentuk apresiasi atas bakat dan dedikasi para peserta, Untag Surabaya menghadiahkan beasiswa penuh kepada juara pertama di masing-masing kategori, sketsa dan lukis.

Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan komitmen Untag Surabaya di bidang pendidikan.

Bahwa dari tahun ke tahun Untag memang menyediakan jalur beasiswa, atau beasiswa yang menjadi hadiah dari kompetisi-kompetisi yang menjadi pelecut siswa-siswi SMA untuk berprestasi.

“Per tahun selalu ada kuota beasiswa untuk pemenang lomba, baik lomba yang disediakan oleh Untag Surabaya maupun mitra dari kampus merah putih ini,” papar guru besar bidang Akuntansi tersebut. 

Dengan dukungan Komite Seni Budaya Nusantara Jawa Timur, Sketsa Indonesia, dan Ikatan Pelukis Indonesia, lomba ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pengembangan kawasan Koblen sebagai ruang sejarah publik. 

Karya peserta nantinya akan digunakan sebagai inspirasi ornamen untuk ruang sejarah Koblen.

Dengan begitu, setiap goresan yang dibuat menjadi jejak yang hidup, yang akan dinikmati masyarakat luas.

Lomba ini terdiri atas dua kategori, yaitu Lukis dan Sketsa, dengan masing-masing memilih tiga pemenang. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#Puri Aksara Rajapatni #surabaya #Lomba Sketsa #Penjara Koblen #sejarah Surabaya