RADAR SURABAYA - Suasana di Vihara Buddhayana Surabaya terasa lebih damai dan tenang. Ratusan umat Buddha memadati altar utama vihara untuk melakukan perayaan Waisak.
Dengan penuh kekhusuyukan, kurang lebih sebanyak 500 umat yang hadir larut dalam perayaan menyambut peringatan Trisuci Waisak.
Ketua Yayasan Vihara Buddhayana Surabaya, Irwan Pontoh mengatakan bahwa pada tahun ini, tema nasional Hari Waisak adalah “Semangat Kebersamaan untuk Indonesia Maju”.
Sebuah ajakan untuk bersatu, hidup rukun, dan bersama menyelesaikan berbagai persoalan bangsa demi Indonesia yang lebih baik.
"Dalam perayaan Hari Waisak ini, ada tiga momen penting yang perlu diperingati. Yakni kelahiran Sidharta, pencapaian pencerahan menjadi Buddha, dan wafatnya menuju Parinirvana," ujar Irwan Pontoh, saat ditemui setelah perayaan, Senin (12/5).
Prosesi Trisuci Waisak dimulai dengan penghormatan kepada Buddha, dilanjutkan dengan pradaksina atau berjalan mengelilingi altar utama sebanyak tiga kali searah jarum jam, setelah itu upacara.
Rangkaian perayaan Waisak ini dipimpin oleh Bhante Viriyanadi Mahathera dari Maha Vihara Mojopahit, Trowulan.
Yang membimbing para umat dalam setiap prosesi perayaan, yang dilanjutkan dengan penyampaian pesan Waisak.
Meskipun tidak ada perbedaan dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya, ada nuansa yang lebih mendalam dalam perayaan kali ini. Salah satu yang paling dinanti adalah ritual memandikan rupang bayi Buddha.
Umat bergiliran menuangkan air bunga ke atas rupang Siddharta Gautama kecil sebagai lambang penyucian diri.
“Perbedaan utama dibanding kebaktian Minggu adalah prosesi yang lebih panjang dan simbolis. Tapi yang terpenting bukan soal panjangnya acara, melainkan bagaimana kita mengambil maknanya,” ujar Irwan.
“Sama seperti saat kita memandikan rupang bayi Siddharta, itu simbol bahwa kita pun harus membersihkan diri,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Buddhayana Indonesia Kota Surabaya, Amri yang turut hadir dalam perayaan menyampaikan bahwa Waisak bukan hanya tentang ritual, tetapi tentang pembenahan diri dan kontribusi untuk bangsa.
“Kita semua didorong untuk meningkatkan kualitas spiritual. Kalau batin kita baik, otomatis kita akan ikut andil dalam membangun Indonesia,” ujarnya.
Puncak Waisak atau detik-detik Waisak jatuh pada hari Senin 12 Mei 2025 jam 23.55.29 WIB. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari