RADAR SURABAYA - Ratusan umat Buddha di Surabaya khusyuk mengikuti prosesi perayaan Tri Suci Waisak 2569 Tahun Buddha (TB) di Vihara Buddhayana Dharmawira Centre (BDC), Minggu (11/5).
Perayaan ini memperingati tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Bodhisattva Siddharta, pencapaian penerangan sempurna Siddharta Gautama, dan wafatnya Buddha.
Romo Pandhita Vihara BDC, Agung Prajna Mudita, menekankan pesan utama perayaan Waisak tahun ini harus menekankan pentingnya keharmonisan dalam hidup berdampingan dengan agama lain.
"Pesannya adalah toleransi, saling menghargai sesama manusia dan umat beragama," ujar Agung.
Ia menambahkan, meskipun semua orang memiliki sifat welas asih dan toleransi, kunci utama terletak pada pengendalian diri dalam kehidupan sehari-hari.
"Semua orang punya sifat naluri itu, namun yang membedakan adalah kemampuan mengontrol diri," jelas Agung.
Prosesinya sendiri meliputi memandikan rupang Buddha, Amisa Puja (persembahan lilin, dupa, bunga, buah, dan air melambangkan sifat manusia), dan pelepasan burung (fangshen) untuk membebaskan makhluk hidup dari penderitaan.
Perayaan Waisak tahun ini bertepatan dengan ulang tahun Vihara BDC yang jatuh pada 12 Mei.
Rangkaian kegiatan akan berlangsung hingga Senin (12/5), dengan puncaknya pada detik-detik Waisak pukul 23.00 WIB. Seluruh prosesi dipimpin oleh Banthe Viriyanadi Mahatera.
"Kita akan duduk tenang (meditasi) merenung apa yang telah dilakukan dan akan diperbuat ke depan," terang Romo Agung.
Romo Agung berharap perayaan Waisak ini membawa kedamaian dan kemajuan bagi Indonesia.
Salah satu umat Buddha, Marlienda, mengungkapkan makna Waisak baginya bisa menimbulkan kebaikan dan kedamaian.
"Waisak tahun ini memberikan kedamaian. Harapannya, kita bisa melaksanakan dharma dengan lebih baik lagi," tutur Marlienda. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari