Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

AI antara Kemanfaatan dan Bahaya, Masyarakat Harus Berhati-Hati Dalam Menerima Informasi di Era Digital 

Rahmat Sudrajat • Sabtu, 3 Mei 2025 | 19:38 WIB

 

Artificial Intelligence atau AI dapat menjadi pedang bermata dua, bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun juga bisa dimanfaatkan untuk menyebar hoaks.
Artificial Intelligence atau AI dapat menjadi pedang bermata dua, bisa bermanfaat bagi kehidupan manusia, namun juga bisa dimanfaatkan untuk menyebar hoaks.

RADAR SURABAYA - Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI), aktivitas kerja manusia memasuki babak baru yang menimbulkan berbagai pro dan kontra.

AI dapat membantu menemukan ide, referensi, dan menyelesaikan pekerjaan dengan cepat, juga membawa potensi bahaya, terutama dalam penyebaran informasi hoaks.

"AI memang memudahkan pekerjaan, tetapi juga bisa membuat orang malas berpikir kritis dan menjadi terlalu bergantung pada AI," ujar pengamat artificial intelligence, Vincentius Riandaru Prasetyo kepada Radar Surabaya.

Ketergantungan pada AI menjadi lebih berbahaya ketika AI digunakan untuk menyebarkan informasi hoaks.

"Karena kemudahan penggunaan AI dan hasil yang mirip seperti aslinya, sulit untuk membedakan antara gambar atau video asli dan hasil manipulasi AI," tutur Vincentius.

Pria yang juga dosen Teknik Informatika Peminatan Data Science and Artificial Intelligence di Universitas Surabaya (Ubaya) ini mencontohkan, semakin maraknya penggunaan AI dalam pembuatan gambar dan video yang terlihat realistis, namun sebenarnya hasil manipulasi AI.

"AI dapat digunakan untuk menyebarkan informasi hoaks, yang dapat berdampak negatif pada masyarakat," jelasnya.

Meskipun demikian, Vincentius menegaskan bahwa AI bukanlah musuh. Namun AI pada dasarnya adalah alat bantu yang diciptakan manusia. "Seperti manusia, AI juga bisa salah," imbuhnya.

Oleh karena itu, dia menyarankan agar masyarakat tetap kritis dan tidak terlalu percaya sepenuhnya pada informasi yang diperoleh dari AI.

"Jika Anda mendapatkan informasi dari manapun, jangan mudah percaya. Telusuri dulu kebenarannya," imbau Vincentius.

Dia juga mencontohkan untuk membedakan gambar asli dan hasil manipulasi AI, Vincentius menyarankan penggunaan situs web seperti https://www.aiornot.com/ atau https://hivemoderation.com/ai-generated-content-detection yang digunakan untuk membantu mengidentifikasi gambar buatan AI.

Selain itu, penting untuk menyadari bahwa bahkan AI canggih seperti ChatGPT, meskipun memiliki versi premium, tetap memiliki disclaimer bahwa AI tersebut masih bisa salah.

Terkait dengan penggunaan AI untuk menyebarkan informasi hoaks sangat berbahaya karena dapat memanipulasi opini publik dan menyebabkan kerusakan sosial.

Hal ini diperparah dengan sulitnya membedakan informasi asli dan hoaks di era digital.

"Di UU ITE pun diatur tentang penyebaran informasi hoaks, privasi, dan sebagainya. Jika menggunakan AI untuk menyebarkan informasi hoaks, tentu dapat dipidana. Masyarakat bisa melaporkan hal tersebut," tegasnya.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan kritis dalam menerima informasi di era AI.

"Jangan terburu-buru percaya dengan informasi yang didapatkan, terutama jika informasi tersebut berasal dari sumber yang tidak jelas. Selalu periksa dan verifikasi informasi sebelum menyebarkannya," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#media sosial #Era Digital #AI #Hoaks #artificial intelligence #teknologi