Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Anak Tukang Becak Itu Jadi Wisudawan Terbaik di Unitomo Surabaya

Rahmat Sudrajat • Minggu, 27 April 2025 | 15:38 WIB
Siti Nur Khotijah bersama kedua orang tuanya. Bahagia. (IST)
Siti Nur Khotijah bersama kedua orang tuanya. Bahagia. (IST)

RADAR SURABAYA - Siti Nur Khotijah tidak pernah menyangka bisa berdiri di atas panggung wisuda. Anak tukang becak itu kini menjadi wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP) Universitas Dr. Soetomo (Unitomo) Surabaya.

Sejak kecil, hidup Siti memang jauh dari kemewahan. Kedua orang tuanya hanya lulusan SD. Mereka merantau ke Surabaya membawa impian sederhana: cukup makan, cukup sekolah, cukup hidup. Itu saja.

Ketika duduk di bangku SMP, Siti sudah merasa jalan hidupnya akan mentok. Lulus SMK saja sudah mewah. Ia tidak berani bermimpi lebih. Pendidikan tinggi terasa seperti langit ketujuh.

"Saya sempat berpikir mustahil bisa kuliah, apalagi sampai S2," katanya lirih saat ditemui di Dyandra Convention Center Surabaya, Sabtu 26 April 2024.

Biaya kuliah mahal. Jauh di luar kemampuan keluarganya. Tapi Siti tidak menyerah. Ia berdoa setiap malam. Ia berharap bisa membanggakan kedua orang tuanya. Tanpa membebani mereka.

Doanya didengar. Beasiswa KIP mengantarnya ke Unitomo untuk studi sarjana. Lalu, beasiswa dari Rektor Unitomo, Prof. Dr. Siti Marwiyah, membuka jalan S2.

Siti kuliah dengan segala keterbatasan. Setiap hari ia berjalan kaki atau naik sepeda ontel ke kampus. Tak pernah mengeluh. Tak pernah mengiba.

Ujian berat datang di semester tiga. Ia divonis mengidap febrodenoma, tumor jinak yang harus segera dioperasi. Setelah operasi, ia tidak lagi kuat berjalan jauh. Setiap hari, sang ayah mengantar Siti dengan becak usang kesayangannya.

Kadang orang-orang salah paham. Mereka mengira Siti adalah langganan becak bapaknya. Tidak tahu bahwa perempuan muda itu sedang mengejar gelar magister.

"Ayah tidak pernah malu mengantar saya," kata Siti, matanya berkaca-kaca.

Menjelang wisuda, Siti menyiapkan kejutan untuk keluarganya. Ia menerbitkan sebuah buku berjudul "Mahir Berpidato," diterbitkan oleh Ruang Karya.

Hari itu, Siti tersenyum lebar. Mimpinya yang dulu terasa mustahil kini jadi nyata. Ia membuktikan satu hal sederhana: keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk menggapai impian. (rmt)

Editor : Lambertus Hurek
#Terbaik #wisudawan #anak #tukang becak #Unitomo