RADAR SURABAYA - Menari, menari, dan menari! Itulah denyut hidup Sri Mulyani, S.Sn, M.Sos sejak usia kanak-kanak hingga kini.
Dari panggung kecil di kampung hingga panggung internasional, Sri menapaki karier dengan konsistensi luar biasa.
Sejak muda, Sri Mulyani sudah terpikat oleh keindahan gerak dan kekuatan narasi dalam tari. Ketekunannya membuahkan hasil.
Perempuan kelahiran Surabaya, 24 November 1975, ini telah menjuarai berbagai kompetisi tari di tingkat regional, nasional, bahkan internasional.
Tahun 1998 hingga 2010, Sri membina Sanggar Sri Production di Sidoarjo. Kemudian, pada 2012, ia pindah ke Surabaya dan mendirikan Mulyo Joyo Enterprise.
Sri bukan hanya penari dan koreografer, tetapi juga duta budaya yang memperkenalkan wajah Indonesia ke panggung dunia.
Tahun 1997, ia sudah mengelilingi 25 kota di Prancis dalam misi budaya. Kemudian lanjut tampil di Sydney, Australia (2004), tur panjang di Belanda (2004), tampil di Turki (2008), serta dua kali di Hongkong (2012) dan (2013).
Salah satu momen paling membanggakan adalah saat ia diundang oleh Duta Besar RI untuk Selandia Baru (saat itu) Tantowi Yahya untuk menampilkan seni tradisional di Wellington, Selandia Baru.
Tak hanya tampil, Sri juga membuka workshop di sekolah-sekolah seperti Qlyde Quay School dan St Teresa Karori School.
“Saya percaya bahwa diplomasi budaya sangat powerful karena sanggup menembus semua perbedaan dan peradaban yang ada. Melalui gamelan, kami mendapat banyak teman,” ujarnya.
Meski segudang prestasi telah ia raih, Sri tetap rendah hati. Ia terus mengajar, menginspirasi, dan membina generasi muda. Baginya, seni bukan sekadar pertunjukan.
Seni adalah pembentukan karakter. Lewat sanggar Mulyo Joyo Enterprise, Sri melatih anak-anak, remaja, dan dewasa agar tak hanya piawai menari, tapi juga tumbuh dengan rasa percaya diri dan semangat belajar tinggi.
“Anak-anak yang belajar tari biasanya lebih percaya diri, tekun, dan punya semangat belajar yang tinggi,” tuturnya.
Ia juga aktif menggunakan media sosial untuk mengenalkan karya-karya tari. Menurut dia, medsos bukan hanya tempat chatting atau hiburan semata, melainkan ruang promosi budaya dan karya kreatif.
“Saya berharap agar media sosial bisa dimanfaatkan untuk mengenalkan atau mempromosikan karya cipta kita dan menjadi ajang untuk menjalin kerja sama yang baik,” katanya.
Tak kalah penting, Sri juga seorang ibu yang perhatian pada pendidikan dan karakter anak. Ia percaya, orang tua masa kini harus aktif memberikan wawasan dan semangat kepada anak-anaknya.
“Seorang Kartini jaman now harus cerdas, sesering mungkin memberikan wacana yang menarik dan positif untuk membudidayakan kreativitas anak,” ujarnya.
Di Hari Kartini 2025, Sri Mulyani berpesan kepada para orang tua dan generasi muda: “Jangan pernah ada kata malas. Sebab, kemalasan itu membuat kita tidak mendapat apa-apa. Semangat, aktif, kreatif, dan bertanggung jawab.” (rek)
Editor : Vega Dwi Arista