RADAR SURABAYA - Di belakang markas kecil Koramil Gayungan, Surabaya, ayam-ayam itu tampak tenang. Tidak tahu kalau yang sedang menuangkan pakan ke tempat mereka adalah seorang prajurit TNI. Serka Sobirin. Lengkap dengan seragam loreng dan sepatu lars hitam mengkilap.
Bukan sedang gladi bersih. Bukan pula latihan tempur.
Pagi itu, misi Sobirin bukan mengamankan wilayah. Tapi memberi makan ayam petelur.
"Biar dapur rakyat tetap ngebul," katanya, sambil tersenyum. Sederhana. Seperti cita-citanya menjaga ketahanan pangan lewat ayam.
Saya bayangkan: biasanya tentara identik dengan senapan. Tapi di tangan Sobirin, ember bekas cat pun bisa jadi senjata. Senjata melawan krisis pangan.
Setiap hari, dengan telaten, ia cek makanan ayam. “Gizi itu penting,” katanya.
“Kalau asal kasih makan, ya produksi telurnya bisa jeblok.” Katanya dengan nada serius, seperti sedang memberi pengarahan pada pasukan.
Ternyata, Sobirin bukan pendatang baru di dunia perayaman. Sejak muda ia sudah akrab dengan kandang dan suara kokok. Maka, ketika program ketahanan pangan digulirkan, ia tidak ragu ambil bagian.
“Siapa pun bisa pelihara ayam. Asal ada kemauan dan tidak malas,” ujarnya.
“Ayam itu makhluk disiplin. Telat dikit kasih makan, ya bisa stres.”
Kalimat terakhir itu seperti sindiran halus: bahkan ayam pun butuh keteraturan. Kalau manusia?
Ia juga tidak pelit ilmu. Siapa saja yang ingin belajar, ia sambut. Kadang prajurit muda yang penasaran, kadang warga kampung yang ingin mandiri pangan. Semua dilayani. (*)
Editor : Lambertus Hurek