RADAR SURABAYA - Meskipun memasuki musim pancaroba, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih melanda Kota Surabaya.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Tanjung Perak memprediksi kondisi ini akan berlangsung hingga pertengahan April mendatang.
Koordinator Prakirawan BMKG Maritim Tanjung Perak, Ady Hermanto, menjelaskan kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang sampai lebat karena masih dalam kategori pancaroba atau peralihan dari musim penghujan ke kemarau.
"Nantinya bulan Mei hujan mulai berkurang dan cuaca menjadi panas, menandai awal musim kemarau. Puncak musim kemarau diperkirakan antara Agustus dan September," tutur Ady, Kamis (17/4).
Namun, warga Surabaya perlu mewaspadai lebih dari sekadar hujan lebat. Adanya awan cumulonimbus (CB) yang sering disertai angin kencang dan hujan deras meningkatkan potensi pohon tumbang.
"Kecepatan angin 5-11 knot. Tapi kalau dalam kondisi normal, apabila tidak ada awan CB, angin masih cukup kondusif. Karena awan CB adalah awan yang bisa menghasilkan angin kencang dan petir, biasanya dibarengi dengan hujan yang deras," jelas Ady.
Bahaya tak berhenti sampai di situ. Adanya awan CB juga meningkatkan potensi puting beliung di Surabaya.
"Ya, jadi Surabaya berpotensi adanya puting beliung karena hadirnya awan CB," ungkap Ady.
Menyikapi potensi bahaya tersebut, Ady memberikan imbauan penting kepada masyarakat.
Ketika melihat awan gelap kemudian berbentuk bunga kol saat hujan, diharapkan tidak berteduh di bawah pohon karena mempunyai angin yang kencang dan mempengaruhi kondisi pohon tumbang.
Seperti kejadian pohon tumbang terjadi Kamis (17/4) pagi di kawasan Dukuh Kupang XIII.
Pohon sawo kecil berdiameter sekitar 30 cm dengan tinggi 4,5 meter tersebut menimpa mobil.
Selain itu, BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan selama masa pancaroba.
"Penting juga untuk memastikan drainase tetap lancar guna mencegah genangan air," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari