Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Tradisi Membuat Ketupat yang Semakin Luntur, Warga di Kampung Kenjeran Surabaya Ajarkan Anak-Anak Buat Ketupat

Rahmat Sudrajat • Minggu, 6 April 2025 | 14:09 WIB
LESTARIKAN: Warga di Kenjeran Surabaya saat mengenalkan cara membuat ketupat kepada anak-anak.
LESTARIKAN: Warga di Kenjeran Surabaya saat mengenalkan cara membuat ketupat kepada anak-anak.

RADAR SURABAYA - Saat lebaran ketupat atau kupatan yang biasanya identik di tengah masyarakat Jawa mulai membuat ketupat.

Biasanya ketupat beserta lauknya dibagikan ke tetangga maupun kerabat.

Seiring dengan perkembangan zaman, di Surabaya tradisi lebaran ketupat mulai menghilang, bahkan sampai pada titik tidak ada yang bisa membuat ketupat kecuali perajin ketupat.

Warga di kawasan Kenjeran, Surabaya berupaya melestarikan tradisi ini dengan mengajarkan anak-anak cara membuat ketupat dari janur.

Mereka sabar dan telaten, bahkan menggunakan trik menarik seperti membentuk janur menjadi keris untuk menarik perhatian anak-anak.

Salah satu warga, Kristian mengakui sulitnya mengajarkan anak-anak membuat ketupat di era modern ini.

"Sebetulnya gampang-gampang susah ngajari anak. Anak saya tadi itu sebetulnya pas waktunya main bola. Jadi harus dipancing dulu dengan hal-hal yang menarik untuk bisa fokus diajari membuat ketupat," ujarnya, Sabtu (5/4).

Dia menekankan pentingnya melestarikan tradisi ini agar anak-anak tidak melupakan jati diri sebagai orang Jawa.

"Ya, penting apalagi anak-anak hanya tahu ketupat, tapi kalau disuruh membuat nggak tahu. Ini yang harus mulai diajarkan ke anak-anak supaya mereka tidak ilang Jowone," tegasnya.

Pembuatan ketupat ini diinisiasi oleh Kampoeng Dolanan agar tradisi kupatan tidak hilang di kampung-kampung Surabaya.

Founder Kampoeng Dolanan, Mustofa Sam menyebut, tradisi membuat ketupat sebagai sarana edukasi penting bagi keluarga, yang dulu menjadi bagian integral dari parenting.

"Ya mengembalikan fungsi keluarga yang sejatinya. Jadi dulu saat saya dan kita semua yang merasakan diajari sama orang tua kita, begitu bisa itu rasanya senang banget. Ada kebanggan tersendiri, makanya saat ini kita bangkitkan kembali tradisi di tengah keluarga saat membuat ketupat," kata Mustofa.

Mustofa menyayangkan hilangnya tradisi kupatan, termasuk kebiasaan "ater-ater" (saling berbagi) dan makan bersama.

"Di Surabaya beberapa kampung masih melakukan tradisi kupatan mulai dari membuat sendiri, ater-ater sampai makan bersama berarti kita masih Indonesia," tegasnya.

Kupatan sendiri erat kaitannya dengan Sunan Kalijaga, dengan filosofi "ngaku lepat" (mengakui kesalahan).

Setiap bagian ketupat, dari beras putih hingga anyamannya, mengandung makna filosofis yang mendalam tentang kehidupan dan pengendalian nafsu.

Mustofa berharap tradisi ini dapat dihidupkan kembali agar nilai-nilai luhur budaya Jawa tetap lestari.

Janur kuning yang membungkus juga melambangkan bahwa sejatine nur atau manusia berada dalam kondisi yang bersih dan suci setelah melaksanakan ibadah puasa.

"Sehingga seseorang yang makan ketupat menggambarkan bahwa telah mengendalikan keempat nafsu tersebut setelah melaksanakan ibadah puasa," pungkasnya. (rmt/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#kampung dolanan #ketupat #surabaya #Sunan Kali Jaga #kenjeran #kupatan