RADAR SURABAYA - Setiap tanggal 5 April, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia memperingati Ceng Beng atau Qing Ming (清明), sebuah tradisi ziarah kubur yang sarat makna budaya dan sejarah. Tradisi ini bukan sekadar ritual membersihkan makam leluhur, melainkan penghormatan mendalam kepada para pendahulu dan ikatan emosional lintas generasi.
Dr Anthony Tjio, pemerhati budaya Tionghoa, menyebut Ceng Beng bermula dari kisah tragis Jie Zi-tui, seorang tokoh pengabdi dari zaman Chun-qiu (sekitar 700 SM). Ia rela mengorbankan daging pahanya untuk menyelamatkan sang pangeran Jin, yang kelak menjadi Adipati Wen Gong.
Namun saat hendak membalas budi, Jie justru menghindar dan akhirnya tewas bersama ibunya dalam kebakaran hutan yang disengaja. Peristiwa itu kemudian diperingati sebagai Han-shi atau Hari Makan Dingin, sehari sebelum Ceng Beng.
Seiring waktu, menurut Anthonyz tradisi Han-shi berkembang menjadi Ceng Beng yang dikenal sekarang. Pada era Dinasti Tang abad ke-7, ritual ini difokuskan kembali pada kesederhanaan: hanya memberi sesaji di makam leluhur dan makan lumpia bersama keluarga.
"Dari sinilah bentuk Ceng Beng yang dijalankan di Indonesia—khususnya oleh komunitas Hokkian—berasal," kata Anthony yang menghabiskan masa sekolah di Surabaya.
Secara astronomis, Ceng Beng jatuh 104–106 hari setelah titik balik musim dingin (Tangce) dan kini selalu dirayakan pada 5 April menurut kalender Gregorian. WargabTionghoa Surabaya biasanya mendatangi makam keluarga tidak selalu persis 5 April tapi hari Sabtu atau Minggu yang berdekatan dengan 5 April.
Penetapan tanggal ini dikukuhkan secara politik setelah kematian tokoh besar Tiongkok: PM Chou En-lai (1976) di Tiongkok daratan dan Presiden Chiang Kai-shek (1975) di Taiwan, yang wafat tepat pada tanggal tersebut.
Selain makam leluhur, Anthony menyebut tiga situs penting Ceng Beng di Tiongkok adalah Mian-shan (asal tradisi), Wa Huang Gong (tempat ibunda leluhur Tionghoa Nuwa), dan Hongtong Shanxi (pusat migrasi besar abad ke-14). Ceng Beng bukan sekadar ziarah, melainkan napak tilas sejarah panjang, cinta, dan pengorbanan. (*)
Editor : Lambertus Hurek