Ekonomi Gresik Hobi & Lifestyle Jatim Mancanegara Nasional Olahraga Person of The Year Selebriti Sidoarjo Surabaya Tekno & Oto Wisata & Kuliner

Cegah Perang Sarung, Wali Kota Surabaya Imbau Orang Tua Perketat Pengawasan terhadap Anak

Dimas Mahendra • Jumat, 14 Maret 2025 | 02:02 WIB

 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

RADAR SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengimbau para orang tua agar lebih ketat mengawasi anak-anak mereka, khususnya selama bulan Ramadan 2025.

Tujuannya adalah mencegah aksi perang sarung yang kerap terjadi di malam hari.

"Kami bersama Kapolrestabes sudah berdiskusi, dan kepolisian telah bergerak tanpa lelah hingga pagi hari bersama Satpol PP serta pihak terkait lainnya," ujar Eri, Kamis (13/3). 

Ia menegaskan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam mencegah keterlibatan anak-anak dalam aksi tersebut.

Oleh karena itu, Eri meminta agar seluruh anak sudah berada di rumah sebelum pukul 21.00 WIB dan tidak diperbolehkan keluar setelah sahur hingga subuh, sebelum berangkat ke sekolah.

"Saya titip kepada warga Surabaya, pukul 21.00 WIB kalau anaknya belum pulang, segera ditelepon atau dicari. Jangan biarkan mereka keluar malam hari dengan alasan apa pun. Jangan sampai ada perang sarung yang melibatkan putra-putri kita," tegasnya.

Menurutnya, pencegahan perang sarung bukan hanya tugas aparat keamanan dan pemerintah, tetapi juga tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak-anak mereka.

"Yang bisa menghentikan ini bukan hanya kepolisian atau Pemkot Surabaya, tetapi kasih sayang dan perhatian orang tua. Jangan sampai anak-anak kita terseret dalam tindakan yang bisa merugikan masa depan mereka," tutur Eri.

Namun demikian, Pemkot Surabaya memastikan bahwa Satpol PP bersama Polrestabes Surabaya akan terus melakukan patroli rutin untuk mencegah tawuran maupun perang sarung.

"Satpol PP sudah bergerak bersama kepolisian, kami sudah membagi tim di beberapa titik dan terus berpatroli keliling Surabaya. Tapi saya selalu katakan, yang bisa menjaga kota ini adalah warganya sendiri. Mari kita bersama-sama menjaga Surabaya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Surabaya, M. Fikser, mengungkapkan bahwa hingga H-12 Ramadan 2025, pihaknya baru menemukan satu lokasi perang sarung di Jalan Ngaglik, Simokerto.

"Biasanya kalau kami datang, anak-anak itu langsung bubar. Jadi, kami lebih fokus pada upaya pencegahan agar perang sarung tidak terjadi," kata Fikser.

Selain perang sarung, Satpol PP juga memetakan potensi gangguan ketertiban umum seperti tawuran remaja.

Pada tahun 2024, terdapat 28 lokasi rawan tawuran di 13 kecamatan.

Sementara sejak Januari hingga 12 Maret 2025, gangguan serupa ditemukan di enam lokasi di empat kecamatan.

"Tawuran ini biasanya terjadi saat kelompok anak muda yang berkendara bersama bertemu dengan kelompok lain yang tidak cocok, lalu saling serang," jelasnya.

Fikser menambahkan, selain mengamankan anak-anak yang terlibat dalam tawuran, pihaknya juga memberikan pembinaan.

"Anak-anak yang kami jangkau biasanya kami bawa ke Satpol PP, lalu mereka diminta mandi, potong rambut, periksa kesehatan, dan mendapatkan pendampingan dari DP3APPKB. Ada juga yang dibawa ke Liponsos untuk melakukan kegiatan sosial seperti membantu penyajian makanan bagi ODGJ," terangnya.

Menurutnya, program Wisata Liponsos yang diterapkan Satpol PP berdampak psikologis positif bagi anak-anak yang terjaring.

Banyak di antara mereka merasa kapok dan tidak ingin mengulangi perbuatannya.

"Kami juga memanggil orang tua dan guru mereka untuk memberikan pembinaan serta meminta mereka membuat pernyataan tertulis agar tidak mengulangi perbuatannya. Jika ada yang memiliki bakat tertentu, kami salurkan, seperti mural di Kembang Jepun," pungkasnya. (dim/nur)

Editor : Nurista Purnamasari
#patroli rutin #orang tua #wali kota surabaya #pemkot surabaya #perang sarung #Eri Cahyadi