RADAR SURABAYA - Bekas penjara Koblen, Surabaya yang mempunyai kenangan sejarah yang panjang di era Belanda, kini masih tak jelas peruntukannya.
Padahal tempat tersebut mempunyai potensi besar sebagai wahana wisata sejarah, edukatif maupun wisata belanja.
Secara historis, penjara Koblen dibangun untuk pemenuhan fasilitas lembaga pemasyarakatan yang lebih layak kemanusiaan di tahun 1920-an.
Menurut pegiat sejarah Surabaya, Nanang Purwono sebaiknya didorong untuk menjadi tempat yang representatif mengenang peristiwa sejarah ketika dulu.
Apalagi di sekitar lainnya juga mulai berkembang dan maju. Seperti kawasan Koblen terkoneksi dengan Kota Lama Surabaya di utara dan Kawasan Lam Peneleh di selatan.
Sementara di sekitaran Koblen adalah Kampung Bubutan dan Tugu Pahlawan yang sangat bersejarah bagi Kota Surabaya.
"Iya, Koblen harus didorong agar bisa menjadi pusat aktivitas ekonomi, sejarah maupun edukasi. Karena berdasarkan pada nilai sejarah yang melekat di tempat tersebut," ujar Nanang, Jumat (7/3).
Dahulu menurut Nanang pembangunan ini juga seiring dengan perkembangan kota Surabaya yang mekar ke selatan dari pusat kota di kawasan Jembatan Merah.
Sekarang terkenal dengan kawasan Kota Lama Surabaya. Di era pemerintahan Hindia Belanda, satu kampung etnis Eropa di sana disebut dengan Benedenstad (Kota Bawah).
"Disanalah pusat administrasi Kota Surabaya sebagai ibukota Wilayah Pantai Utara Jawa bagian Timur (Java’s Van den Oosthoek). Kota Surabaya kala itu dibangun seperti kota kota Eropa, utamanya Belanda," imbuhnya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan perubahan, Benedenstad meluas dan disebutlah kawasan perluasan itu sebagai Bovenstad (kota atas atau kawasan elit).
Bovenstad terdiri dari kawasan seperti Tunjungan, Simpang, Gubeng, Darmo, Sawahan, dan Kupang.
Di masing masing kawasan itu dilengkapi fasilitas dan utilitas sebagai kebutuhan masyarakat.
"Fasilitas itu antara lain gereja, sekolahan, rumah sakit, kantor polisi, sarana olah raga dan serta kantor pengadilan. Di wilayah Sawahan lah dimana terdapat penjara, yang letaknya tidak jauh dari perumahan, sekolah, kantor pengadilan dan gereja," terangnya.
Karena letaknya di kawasan elit, maka secara fisik arsitektural, penjara Koblen didesain ramah masyarakat. Tidak mengerikan dan tidak menakutkan.
Oleh karena itu, bahan-bahan material yang dipakai untuk membangun penjara terdiri dari bebatuan indah dan nyeni.
Terlihat seperti batu Palimanan, tapi lebih cadas dan kuat. Penjara Koblen tidak hanya indah tetapi juga kuat.
Nanang menyebut, kala itu bangunan penjara, utamanya tembok penjara yang memang terlihat dari luar, agar serasi dengan lingkungan yang merupakan kawasan permukiman yang lengkap dengan gereja, kantor polisi dan adanya pendopo serta kantor pengadilan.
"Bahkan meski waktu telah berganti, tembok bekas penjara ini masih kuat dan indah. Banyak orang mengira eks Penjara Koblen adalah bangunan baru karena dari unsur meterial bangunan tembok, yang terlihat seperti batu hias palimanan," ungkap Nanang.
Batu Palimanan adalah salah satu jenis batuan alam yang memiliki keindahan dan kualitas yang sangat baik.
Pada saat pembangunan penjara Koblen di akhir tahun 1920-an, desainer dan arsiteknya sudah sangat visioner sehingga sosoknya bisa ramah dengan lingkungan dimana dia berada.
Sekarang Eks Penjara Koblen berada di titik keramaian kota Surabaya.
Dia berada di jalur sejarah kota. Bahkan sekarang berada di titik jalur perdagangan dan perniagaan.
Dia bersebelahan dengan pusat perbelanjaan BG Junction dan kawasan niaga Braban dan Blauran serta Tunjungan yang legendaris.
"Eks Penjara Koblen memiliki luas lahan sekitar 3,8 hektare, yang di dalamnya bisa dimanfaatkan sebagai wahana wisata keluarga mulai dari wisata belanja, sejarah, rekreasi, yang edukatif dan ekonomis. Ke semua fungsi ini sangat relevan dengan perkembangan kota di sekitar Koblen," pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari