RADAR SURABAYA – Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) menggelar Seminar Pengembangan Karir melalui Beasiswa ke Taiwan pada Selasa (19/2). Acara ini menghadirkan Direktur International Talent Circulation Base (INTACT) Taiwan-Indonesia Andre So serta tiga alumni UNUSA yang telah lolos program beasiswa ke Taiwan.
Seminar ini membahas manfaat kuliah di Taiwan, mulai dari peluang beasiswa penuh hingga prospek karir yang lebih luas setelah lulus. Dalam pemaparannya, Andre So menjelaskan, Taiwan menawarkan banyak keuntungan bagi mahasiswa Indonesia.
Salah satu daya tarik utama adalah program beasiswa yang mencakup biaya kuliah, tiket pesawat pulang-pergi, serta biaya hidup selama di Taiwan. Beasiswa ini tersedia bagi lulusan S1 dari berbagai jurusan dengan syarat minimal skor TOEFL ITP 480.
Setelah menyelesaikan studi selama dua tahun, penerima beasiswa diwajibkan bekerja di perusahaan sponsor selama dua tahun, sehingga mereka tidak hanya mendapatkan pendidikan berkualitas tetapi juga pengalaman kerja internasional.
Keuntungan lain yang ditawarkan adalah kemampuan menguasai dua bahasa utama dunia, yaitu Bahasa Inggris dan Bahasa Mandarin. Hal ini menjadi nilai tambah bagi lulusan yang ingin berkarier di Indonesia maupun di luar negeri.
Menurut Andre So, banyak perusahaan kini membutuhkan tenaga kerja yang mampu berkomunikasi dalam Bahasa Mandarin, sehingga lulusan dari Taiwan memiliki daya saing yang lebih tinggi di pasar kerja.
Selain itu, prospek penghasilan di Taiwan juga menarik minat mahasiswa. Alumni program ini yang bekerja di perusahaan Taiwan bisa memperoleh gaji sekitar Rp 18-20 juta per bulan.
Peluang ini menjadi alasan banyak mahasiswa Indonesia, terutama dari Surabaya dan Jawa Timur, tertarik untuk mengikuti program beasiswa ini. Dalam dua angkatan terakhir, sebanyak 60 mahasiswa telah diberangkatkan ke Taiwan melalui INTACT.
Tsamroatul Fuadah, salah satu penerima beasiswa, mengatakan bahwa kesempatan ini tidak boleh dilewatkan. “Karena ada kesempatan beasiswa ke Taiwan, mengapa tidak diambil?” ujarnya.
Sementara itu, Nurul Riska memilih Taiwan karena faktor bahasa dan budaya, mengingat banyak perusahaan kini menggunakan Bahasa Mandarin dalam operasional mereka.
Sebelum keberangkatan, mahasiswa yang lolos program ini mendapatkan pembekalan, termasuk kursus Bahasa Mandarin, untuk membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan akademik dan profesional di Taiwan.
Selama perkuliahan, mahasiswa juga akan mengikuti kelas internasional yang menggunakan Bahasa Inggris, dengan tambahan kelas Bahasa Mandarin untuk memperlancar komunikasi sehari-hari. (Nurul Syfa/Suzana Alvertina)
Editor : Lambertus Hurek