RADAR SURABAYA - Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) menggelar wisuda ke-52 di Dyandra Convention Center, Senin (17/2), mewisuda 666 lulusan.
Acara ini menjadi yang pertama bagi Rektor UM Surabaya yang baru, Mundakir, setelah menggantikan Sukadiono.
"Ini wisuda pertama bagi saya selaku rektor yang mewisuda mahasiswa di semester ganjil," ujar Mundakir.
Dia mengaku sangat bersyukur bisa memfasilitasi mahasiswa yang sudah menyelesaikan pendidikan di UM Surabaya.
"Ini bagian dari prestasi yang dicapai, bisa meluluskan mahasiswa yang telah menunjukkan prestasi akademik dan non-akademik," tuturnya.
Mundakir memberikan pesan dan tantangan kepada para wisudawan. "Tantangan ke depan sangat berat dan beragam," katanya.
Oleh karena itu, dia mendorong lulusan UM Surabaya untuk tidak berhenti di tahap ini, tetapi terus memacu peningkatan potensi agar bisa berkompetisi di dunia global dan masyarakat dengan bekal yang telah diperoleh.
UM Surabaya, lanjut Mundakir, tak hanya membekali mahasiswa dengan ilmu akademik dan non-akademik, tetapi juga menanamkan nilai moralitas dan toleransi.
"Itu adalah model yang kita kuatkan dan siapkan untuk lulusan agar bisa berkompetisi di dunia kerja," jelasnya.
Sementara itu, peluang kerja untuk lulusan UM Surabaya berdasarkan hasil tracer 70 persen lulusan bekerja dibidang keilmuannya. Sedangkan 30 persen berkreasi menciptakan dunia kerja yang berbeda.
"Berdasarkan tracer study, 70 persen lulusan bekerja di bidang ilmunya, sementara 30 persen berkreasi menciptakan dunia kerja yang berbeda dari pendidikan yang mereka dapatkan," jelas Mundakir.
Lebih lanjut, dia menyebutkan bahwa rata-rata lulusan UM Surabaya mendapatkan pekerjaan dalam waktu kurang dari tiga bulan setelah wisuda.
Sementara itu, di tengah gemerlap wisuda ke-52 UM Surabaya, kisah Aida Mahmudah, 21, menyita perhatian.
Mahasiswi yang berhasil meraih IPK 3,86 ini memiliki perjalanan hidup yang penuh tantangan.
Aida, yang berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu, harus bekerja keras untuk membiayai pendidikannya.
"Saya juga berjualan donat dan di pasar Pogot untuk mendapatkan uang kuliah," tutur Aida.
Kesedihan dirasakan Aida karena tak dapat di dampingi orang tuanya di hari wisuda. Namun, dia merasa terharu dengan apresiasi yang diberikan UM Surabaya.
"Meskipun orang tua saya tidak bisa hadir, saya merasa terharu dan bangga bisa di wisuda hari ini," tambahnya.
Ke depan, Aida berencana melanjutkan pendidikan S2 di bidang teknik engineering.
Dia mengaku pernah merasa terabaikan dan dikesampingkan, bahkan tanpa teman. Namun, semangatnya tak pernah padam.
"Motivasi saya, Allah mendengar, melihat, dan membersamai. Seperti rumput liar yang tetap berbunga," pungkasnya. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari