RADAR SURABAYA - Pencemaran lingkungan, khususnya sungai memang menjadi kekhawatiran tersendiri bagi banyak pihak.
Pasalnya, dari waktu ke waktu pencemaran sungai semakin mengkhawatirkan.
Untuk mengingatkan akan dampak dari pencemaran sungai, aksi Menolak Punah digelar oleh aktivis lingkungan di Surabaya, dengan menyoroti kondisi memprihatinkan Sungai Brantas dan anak sungainya, Kalimas.
Sekelompok aktivis lingkungan dari komunitas penyayang ikan perairan Nusantara mengarak replika ikan palung raksasa sepanjang 6 meter dan lebar 2 meter dari Taman Jasa Tirta hingga Jembatan Kayoon.
Aksi ini menjadi bentuk protes terhadap pencemaran yang terus memburuk akibat limbah industri dan domestik.
Koordinator aksi, Alaika Rahmatullah, menjelaskan alasan di balik aksi dramatis tersebut.
"Aksi Menolak Punah di Sungai Kalimas ini menyoroti hilangnya spesies ikan lokal dan ancaman terhadap ekosistem sungai secara keseluruhan," ujar Alaika, Senin (17/2).
Dia menyebut replika ikan raksasa ini menggambarkan kondisi perairan yang semakin kritis.
Sungai Kalimas, sebagai anak sungai Brantas dan sumber air minum bagi warga Surabaya, menjadi saksi bisu pencemaran yang parah.
"Setiap musim kemarau, kita sering melihat sungai ini berbusa akibat tingginya kadar fosfor. Banyak ikan mati, bahkan kita sering menemukan ikan yang munggut (mabuk) karena kekurangan oksigen," jelasnya.
Alaika menambahkan, keprihatinannya terhadap minimnya pengawasan pemerintah.
"Kami menemukan banyak industri kertas, penyedap rasa, dan gula yang membuang limbahnya pada malam hari. Ini menunjukkan pengawasan yang sangat lemah," ujar Alaika.
Sementara itu, dari data dari Onlimo KLHK pada 15 Februari 2025 menunjukkan Sungai Brantas di Kota Kediri tercemar berat dengan kadar amoniak mencapai 13,56 ppm, BOD 7,36 ppm, dan TSS 6,22 ppm.
Sungai ini juga memiliki tingkat pencemaran mikroplastik tertinggi di Indonesia, dengan 636 partikel per 100 liter air. Dampaknya sangat luas, mulai dari rantai makanan hingga kesehatan manusia.
Para aktivis menuntut pemerintah untuk meningkatkan pengawasan dan transparansi.
"Kami meminta pemerintah untuk menerapkan quality monitoring yang ketat dan memasang CCTV yang bisa dipantau real time oleh masyarakat. Faktanya, 70 persen sungai di Indonesia tercemar berat, dan 54 persennya berasal dari industri," tegasnya.
Dia berharap aksi ini dapat mendorong pemerintah untuk bertindak lebih tegas dalam melindungi Sungai Brantas dan ekosistemnya dari ancaman kepunahan. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari