RADAR SURABAYA - Pemerintah Kota Surabaya terus berupaya mengatasi kemacetan di 25 titik padat, termasuk di kawasan Benowo, Ahmad Yani, Basuki Rachmat, Kertajaya, Dharmahusada, dan MERR.
Data menunjukkan volume kendaraan di beberapa titik mencapai 4.764 unit dalam dua arah.
Dosen Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota ITS, Putu Rudy Satiawan, menyarankan peningkatan kapasitas jalan dan solusi jangka panjang.
Dia mencontohkan Jalan Raya Kertajaya yang sudah memiliki empat lajur dan traffic light, namun masih mengalami kemacetan.
Putu mengusulkan pembangunan jalan non-sebidang, seperti underpass dan flyover, untuk mengatasi perpotongan sebidang yang menjadi penyebab kemacetan.
"Jika pemerintah sudah menerapkan empat lengan dengan sinyal atau dilengkapi traffic light, perlu memikirkan aspek lain, seperti membuat jalan tidak sebidang," kata Putu, Kamis (13/2).
Dia juga mencontohkan underpass di kawasan Dolog atau Taman Pelangi sebagai solusi yang efektif.
Putu juga menilai pembangunan underpass di MERR layak dipertimbangkan mengingat banyaknya permukiman dan fasilitas di kawasan timur kota.
Sementara itu, Pemkot Surabaya tengah mengoptimalkan waktu traffic light dan membuka jalan alternatif, seperti Jalan Dharmahusada yang terhubung dengan Kampus C Unair.
Kepala Bappedalitbang Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad mengatakan, rencana tersebut masih dalam tahap identifikasi lahan.
“Itu bisa, sebagai jalan alternatif agar pengguna jalan tidak tertumpu di satu simpang ya,” ungkapnya.
Meski demikian, rencana jalan akses permukiman dharmahusada indah menuju simpang empat kampus C UNAIR masih proses identifikasi tanah.
Meski demikian, upaya penanganan kemacetan di Kota Surabaya dilakukan dengan berbagai alternatif.
Mulai dari peningkatan kapasitas jalan, pengaturan lalu lintas persimpangan jalan, penyediaan rute alternatif.
Serta pengembangan transportasi umum masal untuk memindahkan dari kendaraan pribadi ke kendaraan umum.
”Termasuk penataan kota dengan konsep compact city juga dilakukan untuk mengurangi tingkat perpindahan yang jauh,” jelasnya.
Bagi dia, konsep compact city atau kota kompak dengan pengembangan mixed use menciptakan lingkungan perkotaan yang inklusif dan terhubung.
Di area mixed use dapat ditemukan perumahan, restoran, pelayanan kota, sekolah, fasilitas budaya, taman, dan banyak lagi. Konektivitas ini mengurangi kebutuhan akan kendaraan pribadi.
”Dengan mengurangi kebutuhan akan perjalanan kendaraan, pengembangan mixed use juga menghadirkan ruang komunitas bersama,” pungkasnya. (rmt/nur)
Editor : Nurista Purnamasari