RADAR SURABAYA - Sebanyak 14 orang pedagang makanan di Surabaya menjadi korban penipuan dengan penggelapan modus dijanjikan pinjaman online tanpa bunga.
Akibat ulah pelaku, 14 korban mengalami kerugian sekitar Rp 200 juta. Sebab mereka bukan mendapat dana pinjaman malah mendapat tagihan dari aplikasi pinjaman online (pinjol).
Salah satu korban Heni Purwaningsih menjelaskan, kejadian bermula saat Bramasta Afrizal Riyadi mengumpulkan para korban di kantor kelurahan Sememi pada Kamis (31/10).
Saat itu para korban mendapat sosialisasi dari Bram yang mengaku utusan dari Pemkot Surabaya.
Dia menjanjikan dana pinjaman tanpa bunga cukup dengan fotokopi KTP korban.
Heni saat itu datang ikut sosialisasi dan diberi nasi kotak bersama korban lain. Kemudian ponselnya diminta.
"Saya sempat nanya, katanya KTP dan KK aja. Dijawab untuk mengecek BI checking," ungkapnya, Minggu (2/2).
Setelah sosialisasi, para korban dikunjungi Bram di rumah dan tempat usahanya. Ponsel para pedagang dikumpulkan dan dibuatkan aplikasi. Mereka saat itu yakin karena ada anak Lurah Sememi juga.
Seminggu pasca sosialisasi, Heni sempat menelpon Bram menanyakan kapan dana pinjaman cair. Bram saat itu menjawab dana akan cair tunai bukan ditransfer.
"Malah dipesani kalau ada Kredivo nagih abaikan. Nanti kalau dapat Rp 5 juta, bayarnya nyicilnya ke dia," ucapnya.
Perempuan pedagang makanan dan minuman ini mengaku hingga sekarang dana pinjaman itu tidak pernah cair.
Namun dirinya malah mendapatkan pemberitahuan ada tagihan pinjaman online Kredivo atas pembelian belanja sendok plastik dan peralatan kecantikan dikirimkan ke alamat CV Grand Jaya alamat di Jalan Pangeran Antasari RT 2 RW 1 Kelurahan Kenanga Sumber, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Korban lainnya mengalami hal yang sama. Ada yang mendapat tagihan atas pembelian ponsel Samsung Galaxy 2 Fold (12/256 GB) dengan alamat pengiriman Jalan Karah V No. 32 RT 1 RW 5 Karah, Jambangan, Surabaya.
Padahal para korban tidak pernah memesan dan menerima barang tersebut.
"'Kami saat itu percaya karena kami diminta datang dan tertarik karena pikirnya gak riba. Terus katanya orang utusan pemkot dan waktu sosialiasi ada orang partai datang, jadi ya percaya," terangnya.
Sementara salah satu korban lain Febriana mengaku tertipu Rp 30 juta. Ia memiliki pinjaman online di dua aplikasi.
Setiap bulan harus menyicil Rp 3 juta akibat ulah pelaku Bram. Bahkan saat ini sudah masuk bulan ketiga.
Pada akun Shoppee-nya ada tagihan pembelian kuku palsu senilai Rp 12 juta dan liontin senilai Rp 1 juta dengan pengiriman di Kota Cirebon. Padahal barang tersebut tidak pernah diterima.
"Anehnya di alamat pengiriman rumahku, tapi kotanya di Cirebon," terangnya.
Febriana meyakini itu adalah pesanan fiktif. Sebab saat dicek ternyata rekening yang didaftarkan di akun pinjaman online atas nama Bram.
Bram setelah membuat akun pinjaman online itu pesan barang dengan alamat fiktif.
"Sehingga kurir mengembalikan barang ke toko. Karena dicancel, uang cair ke rekeningnya," lanjutnya.
Ia mengaku bersama belasan pedagang lainnya sempat mendatangi alamat Bram di kawasan Kemlaten, Surabaya. Namun, alamat tersebut ternyata rumah tinggal mertuanya.
"Mertuanya malah minta nomor telepon Bram, dan tanya alamatnya sekarang," tegasnya.
Atas dugaan penipuan tersebut, belasan korban telah melapor ke Polrestabes Surabaya. (rus)
Editor : Jay Wijayanto