RADAR SURABAYA – Setiap tahunnya, perayaan tahun baru Imlek di kampung pecinan Tambak Bayan Surabaya selalu berlangsung meriah dan penuh semangat kegotong-royongan. Serta menarik banyak wisatawan.
Tahun baru Imlek merupakan perayaan yang penuh warna dan penuh makna bagi masyarakat keturunan Tionghoa.
Tambak Bayan sendiri dikenal salah satu kawasan yang setiap perayaannya banyak dihadiri masyarakat luar.
Memasuki kawasan tersebut langsung disuguhi dengan ornamen-ornamen khas, seperti lampion, mural-mural bernuansa pecinan bertuliskan huruf-huruf Tionghoa dan tentunya warga yang sudah siap dengan memakai pakaian ceongsam.
Perayaan Tahun Baru Imlek 2576 Kongzili di Tambak Bayan diawali dengan pertunjukan tari tradisional Bantengan, oleh kelompok Rea-Reo yang beranggotakan anak-anak warga sekitar.
Setelah itu pertunjukan Barongsai yang membuat suasana semakin meriah.
Dengan diiringi tabuhan musik yang khas, sebanyak tiga ekor barongsai berkeliling kampung untuk menghibur serta mengambil angpao yang telah disiapkan oleh warga sekitar.
Tak hanya sekadar memberikannya, warga memasang angpao-angpao untuk barongsai dengan ditempatkan di ketinggian seperti di plafon, di lampu penerangan jalan.
Hal itu membuat agar para pemain barongsai untuk beratraksi, dan tentunya untuk menghibur warga yang menyaksikan.
Ketua RT 02 RW O2 Tambak Bayan, Piyono mengatakan, perayaan Imlek tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Karena selain pertunjukan barongsai ada juga pameran barang-barang peninggalan leluhur, dan juga penampilan seni Bantengan.
Menghadirkan seni Bantengan sebagai akulturasi budaya Tionghoa dan tradisional, menunjukkan kolaborasi antar warga untuk menjaga kerukunan dan persatuan.
“Memilih Bantengan dalam perayaan ini, agar ada kolaborasi antar warga dan tidak ada tendensi. Lebih untuk menjaga kerukunan dan persatuan”, kata Piyono, Rabu (29/1).
Perayaan tahun baru Imlek di kampung pecinan Tambak Bayan ini rutin digelar setiap tahun dengan meriah.
Seluruh warga keturunan Tionghoa di kawasan tersebut, hampir pasti terlibat dalam perayaan ini.
“Kampung Tambak Bayan sudah disebut kampung pecinan, jadi jangan sampai perayaan ini hilang. Kita harus menjaga serta melestarikannya”, tambahya.
Meskipun kampung pecinan dihuni berbagai suku dan agama, namun semua turut mendukung dalam perayaannya.
Dengan nilai toleransi yang sangat tinggi dan mengusung semangat gotong royong, untuk menjadikan perayaan disini berjalan dengan meriah, aman dan lancar. (sam/nur)
Editor : Nurista Purnamasari